Budi Daya Edamame Pendapatan Petani pun Terdongkrak  

29

MENINGKATKAN pendapatan petani jeruk di kabupaten Bangli, yang sebelumnya hanya memperoleh pendapatan setahun sekali, Dinas Pertanian Kabupaten Bangli tengah mengembangkan budi daya edamame. Edamame yang memiliki nilai jual tinggi ini dijadikan sebagai tanaman tumpang sari di sela-sela tanaman jeruk sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi para petani jeruk.

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bangli, Ir. I Wayan Sukartana, M.Si. memaparkan, pengembangan komoditas edamame di Kabupaten Bangli ini dimulai sejak 2014. Namun waktu itu baru demplot pada 30 are lahan saja. “Waktu itu kami bekerja sama dengan gerakan petani Bali, jadi bibit mereka berikan dan hasil juga mereka beli,” paparnya.

Hal ini sejalan dengan program intensifikasi pajale (padi, jagung dan kedelai) yang tengah dikembangkan pemerintah.

Melihat hasil dari demplot yang sangat bagus dan dianggap mampu memberikan nilai tambah bagi petani, budi daya edamame mulai dikembangkan di sejumlah wilayah dengan total luas lahan 1,40 hektar. “Suksesnya pengembangan edamame ini ternyata karena kondisi tanah di sejumlah wilayah di Bangli yang lempung berpasir sangat cocok dengan tanaman edamame. Ini sangat menggembirakan bagi kami, karena wilayah yang sebenarnya tergolong gersang saat ini bisa menjadi tempat bertani yang memberikan keuntungan bagi masyarakat Bangli,” tukasnya.

Dari segi bisnis ini tentunya sangat menguntungkan bagi petani petani, meski baru sebagian kecil petani yang mengembangkan edamame secara tumpang sari. Diakui, saat ini pengembangan edamame memang baru dikelompokkan utama dan madia karena biaya untuk budi daya cukup tinggi. “Harga bibit edamame ini lumayan mahal, jadi petani masih kesulitan dari segi bibit ini. Tetapi sekarang kelompok tani sedang berupaya membuat bibit sendiri untuk menekan biaya,” ucapnya. (pur)

BAGIKAN