Pada 2016-2017 dapat dibilang situasi menyakitlan bagi pebisnis properti. Itu karena lambatnya dan bahkan lesunya penjualan produk properti. Kondisi ini menyebabkan sebagian pengembang merugi. Menyikapi hal tersebut pelaku bisnis maupun pihak terkait perlu terus berinovasi untuk kembali menggairahkan sektor properti. Apa saja itu?

SECARA umum ekonomi nasional 2017 cukup stabil. Kebijakan pemerintah memang perlu lebih digenjot untuk peningkatan perekonomian, terutama kebijakan yang lebih memihak sektor properti dengan dampak luas yang dimiliki. Inovasi dari sisi kebijakan pemerintah sangat strategis untuk menggeliatkan kembali sektor properti seperti pada masa booming atau era keemasan  beberapa tahun silam.

Properti mengalami sakit dua tahun terakhir disebabkan lesunya perekonomian nasional 2015. Perlambatan ekonomi, suku bunga tinggi, dan daya beli rendah memberi dampak negatif terhadap pemasaran produk properti (rumah, tanah, dan lainnya) 2016-2017. Dampak regulasi dan peningkatan pembangunan infrastruktur diharapkan mampu mengangkat sektor properti dari krisis. Kebijakan  pemerintah hingga tahun 2020 yang akan menyalurkan anggaran Rp 5.500 triliun bukan saja mamacu kemajuan infrastruktur tetapi juga  untuk menggerakkan sektor perekonomian lainnya terutama sektor riil.

Direktur PT Sepa Karya Buana, Dr. Dewa Putu Selawa, M.M. menyampaikan, regulasi yang lebih mudah dari pemerintah akan sangat diapresiasi pengembang untuk lancarnya pasokan perumahan bagi masyarakat. Dengan kemudahan izin, proses cepat, dan transparansi tinggi, harga jual produk juga bisa dipermak lebih terjangkau bagi masyarakat, terutama perumahan menengah bawah yang banyak dicari konsumen untuk tempat tinggal.

Menyikapi situasi saat ini selektivitas dan strategi bersaing yang matang dan berbasis sumber daya diperlukan agar terhindar dari risiko kerugian. Dengan pola bisnis yang terarah dan fokus namun tetap hati-hati diharapkan pengembang yang sudah sakit berangsur-angsur pulih membaik seiring dampak perbaikan infrastruktur oleh pemerintah.

Sebelumnya, owner PT Ariyana Property, Made Ariyana, S.T. menyampaikan, inovasi dalam kondisi sulit mutlak dilakukan untuk memanfaatkan celah-celah baru dalam bisnis. Tak hanya dengan meningkatkan kualitas produk dan konsorsium namun juga mengupayakan kemudahan bagi konsumen. Itu penting karena pada dasarnya kebutuhan akan papan bagi masyarakat menengah bawah khususnya sangatlah mendesak. Dengan kemudahan regulasi beban pengembang berkurang, dengan begitu harga jual rumah pun dapat dipermak lebih terjangkau. Dia tetap optimis kemudahan akses perbankan, dan lainnya turut andil dalam meningkatkan pasokan rumah untuk mengurangi backlog nasional. (gun)

BAGIKAN