Koperasi memiliki asas dan landasan yang kuat dan kokoh. Koperasi didirikan oleh anggota kemudian dalam pengelolaannya anggota wajib terlibat atau aktif berpartisipasi dalam kinerja koperasi. Keuntungan atau sisa hasil usaha koperasi akan dibagikan kepada anggota. Artinya, koperasi yang didirikan sesuai aturan dipastikan berkembang dan mampu meningkatkan kesejahteraan anggota. Namun kenyataannya, banyak koperasi belum berkembang. Apa yang terjadi?

KOPERASI di Bali sampai saat ini berjumlah 4.995 unit. Dari jumlah tersebut, sekitar 11 persen dikategorikan tidak aktif alias sakit. Jumlahnya mencapai 500 unit koperasi mengalami permasalahan besar, sampai-sampai tidak aktif.

Dari sekian banyak yang tidak aktif, sekitar 300 koperasi sudah diusulkan untuk dibubarkan ke Kementrian Koperasi dan UKM RI. Sisanya 200 unit akan dibina dengan tujuan mau bangkit dan mampu mandiri sehingga dapat menyediakan lapangan pekerjaan dan mengentaskan kemiskinan.

‎Pemerhati perkoperasian, IB Udayana Putra, S.E., M.M. menyebutkan, koperasi yang perkembangannya sangat terbatas masih mendominasi koperasi. Maka itu, dipastikan ada yang salah dalam hal manajemen. Kemungkinan karena pengelolanya salah, anggota selaku pemilik koperasi juga tidak menjalankan perannya sehingga bertindak salah. Selain itu, pengawas koperasi tidak berperan sesuai tugas pokoknya sehingga koperasi tanpa pengawasan. Maka pengawas juga salah. Kalau kondisi koperasi seperti itu, koperasi tidak mengalami perkembangan yang baik. Koperasi demikian cenderung akan bangkrut karena permasalahannya sangat kompleks.

“Koperasi sampai saat ini memang sudah berkembang baik. Namun banyak juga yang belum berkembang pesat. Terbukti dari hampir 5.000 unit koperasi, sekitar 1.000 unit yang berkembang bagus. Sisanya masih terkendala,” tegasnya. ‎

Pemerhati koperasi lainya, I Gede Dirgayusa, S.E. menerangkan, perkembangan koperasi saat ini sudah sangat pesat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Banyak juga koperasi yang beraset besar sudah dikelola secara profesional. Terbukti banyak koperasi yang memproleh penghargaan, baik tingkat daerah maupun nasional. Hal ini membuktikan koperasi di Bali sudah berkembang bagus. “Namun seperti rekan kami bilang, di Bali masih kebanyakan koperasi mengalami persoalan, baik internal maupun eksternal. Kondisi ini sangat merugikan image perkoperasian di Bali, terutama koperasi yang asetnya masih kecil dan koperasi pemula. Kinerjanya tidak lancar, sehingga tidak mampu berkembang baik,” ujar Dirgayusa sambil menyebutkan bagi koperasi yang banyak masalah ada indikasi salah merekrut anggota, pengurus dan pengawas. Jika perekrutannya benar, koperasi diyakini akan berjalan lancar dan cepat mandiri. Seperti merekrut anggota yang mau aktif terlibat dalam kegiatan koperasi, merekrut pengurus yang mampu menjalankan unit usaha koperasi. Pengurus mampu memanajemen usaha dengan baik. Pengawas juga harus benar-benar mampu menjalankan pengawasan koperasi. Jika salah merekrut pengawas, koperasi akan lolos dari kontrol. ‎(sta)

BAGIKAN