Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas sangat ditentukan perkembangan pelaku usaha (wirausaha baru). Perkembangan ekonomi negara maju sangat ditentukan jumlah pelaku usaha. Jumlahnya minimal di atas 10 persen dari jumlah penduduk. Lantas apa yang terjadi di Indonesia, khususnya Bali?

MENTERI Koperasi dan UKM RI, AAN Puspayoga yang didampingi Deputi Bidang SDM, Baskoro, B.S., Jumat (19/5) di Denpasar menegaskan, pertumbuhan ekonomi di semua negara dunia sangat ditentukan jumlah pelaku ekonomi (wirausaha). Maka itu, pemerintah sampai terus mendorong sekaligus mencetak wirausaha baru lebih banyak lagi. Pemerintah memprogramkan setiap tahunnya ada 80 ribuan yang diberikan pembekalan menjadi wirausaha baru melalui Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN).

”Sampai saat ini dari data yang ada sudah 3,1 persen dari jumlah penduduk Indonesia atau 7,9 juta orang sudah menjadi wirausaha. Dari jumlah ini, sudah banyak wirausaha yang menampung tenaga kerja. Dengan lapangan kerja yang disediakan pelaku usaha ini akan mampu mengentaskan kemiskinan. Maka itu, setiap tahun kami melaksanakan program GKN agar masyarakat yang memiliki niat menjadi pengusaha berani memutuskan membuat usaha. Kemudian menampung tenaga kerja,” tegas Puspayoga.

Baskoro menambahkan, dari perkembangan sumber daya manusia khususnya dunia usaha sudah sangat tinggi. Dengan adanya program pemerintah mulai tahun 2011 sampai sekarang, jumlah wirausaha terus ditingkatkan sehingga perkembangan dunuia usaha sudah tinggi. Di Indonesia sebenarnya sudah melebihi data yang ada. Hanya sebagian lainnya belum memiliki tempat. Diperkirakan sampai 18 juta orang lebih sudah menjadi wirausaha atau di atas 10 persen dibandingkan jumlah penduduk yang ada. Hanya di Indonesia memang berbeda dengan negara-negara lainnya, apalagi negara maju jumlah pelaku usaha yang skala besar lebih banyak, sedangkan skala mikro lebih kecil. Namun di Indonesia pelaku usaha mikronya yang dominan dan yang berskala besar hanya berkisar 1 persen. ”Tetapi pelaku usaha besar menyumbang lebih besar, berkisaran 40 persen, sedangkan jumlah pelaku usaha mikro di atas 90 persen dan dapat menyumbangkan di atas 50 persen. Namun ke depan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan sangat bagus,” tandasnya.

Sementara itu di Bali, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Bali, I Dewa Nyoman Patra, S.H., M.H. menyatakan, dari mulai program pemerintah pusat mendorong gerakan wirausaha sampai saat ini sudah ada di atas 5.000 orang yang didorong menjadi wirausaha pemula. Dari evaluasi yang dilakukan, dari penduduk yang diberikan dorongan tersebut, ada 15 persen saja yang sudah berani membuat usaha. Dengan begitu, sudah ada 750 pelaku usaha baru. Jika satu perusahaan mempekerjakan rata-rata 3 orang, sudah ada di atas 2.000 orang pengangguran yang terfasilitasi. Maka sudah ada 2.000 orang yang mendapatkan penghasilan sehingga program gerakan kewirausahaan nasional memang mampu mengetaskan kemiskinan. ”Di Bali sampai saat ini sudah ada 265 ribu pelaku usaha (UMKM). Jumlah ini akan terus berkembang sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Bali. Terbukti, di Bali pertumbuhan ekonomi melampaui nasional yakni di atas 6 persen. Ke depan, walaupun dalam kondisi perekonomian lagi lesu, tetapi di Bali optimis akan terus meningkat,” katanya sambil menyebutkan sesuai hasil analisis perkembangan suatu negara, apabila memiliki lebih dari 2 persen dari jumlah penduduk adalah pelaku usaha, maka ekonominya akan terus berkembang.  (sta)

BAGIKAN