Teknologi Informasi Dorong Perkembangan LPD

22
Dr. I Putu Astawa, S.E., M.M.,

Denpasar (Bisnis Bali) – Teknologi informasi (TI) mampu membantu perusahaan dalam meningkatkan usaha agar lebih produktif. Penggunaan TI memberikan kontribusi positif pada perusahaan manufaktur dan non-manufaktur.

“Penggunaan TI dalam perusahaan mempunyai dampak terhadap tenaga kerja yang berkaitan dengan peningkatan skill dan memberikan motivasi bekerja lebih baik dan produktif. Dampak lain yang ditimbulkan oleh penggunaan TI adalah kualitas pelayanan dan penurunan biaya,” kata pemerhati keuangan, Dr. I Putu Astawa, S.E., M.M., Minggu (14/5).

Ia menambahkan, pelayanan yang berkualitas melalui penggunaan TI menumbuhkan kepercayaan konsumen, karena dilayani dengan cepat, tepat, dan murah. Konsep semacam ini bukan lagi didominasi oleh perusahaan manufaktur akan tetapi sudah merambah keperusahaan non-manufaktur, seperti kesehatan, hospitality, pendidikan, dan perbankan. Oleh karena itu, lembaga perkreditan desa (LPD) merupakan sebuah lembaga keuangan mikro yang memiliki peranan dalam bidang sosial, budaya, dan ekonomi. Tidak terlepas dari pengaruh TI dalam menjaga komunikasi dengan masyarakat atau nasabah. Bahkan, di tengah kondisi ekonomi yang melambat. Keberhasilan lembaga keuangan mikro bukan terletak pada penyaluran kredit melainkan jangkauan pelayanan kredit yang diberikan kepada masyarakat.

Menurutnya, pelayanan kredit bagi masyarakat pedesaan merupakan salah satu tugas lembaga perkreditan desa. Dapat mendorong terciptanya peningkatan ekonomi pedesaan, membuka lapangan pekerjaan, mengurangi urbanisasi dari desa ke kota, dan mengurangi kriminalitas. Pelayanan lembaga keuangan mikro seperti ini sudah banyak ditemui di beberapa negara lainnya seperti di Bangladesh, Filipina, Malaysia atau negara-negara ASEAN lainnya. Namun, pelayanan yang diberikan oleh lembaga keuangan mikro yang ada di pedesaan di Bali sangat berbeda. Karena selain pelayanan kredit juga memberikan pelayanan yang berkaitan dengan pemeliharaan budaya yang berkembang di masing-masing desa.

“Pemeliharaan budaya yang dilakukan oleh lembaga keuangan mikro terangkum dalam konsep budaya harmoni, di mana menekankan harmonisasi hubungan antara perusahaan dengan Tuhan, karyawan, masyarakat, dan lingkungan alam. Penerapan  budaya  harmoni di lembaga keuangan mikro mempunyai dampak terhadap tingkat efisiensi, risiko kredit dan kinerja keuangan,” kata Astawa. (sta)

BAGIKAN