Bank harus Belajar dari Kasus Terganggunya ”Online Banking”  

19
Wakil Ketua Umum Kadin Bali Bidang Fiskal dan Moneter, IB Kade Perdana, M.M.

Denpasar (Bisnis Bali) – Industri perbankan diharapkan mau belajar dari beberapa kasus berkaitan dengan tansaksi maupun sistem pembayaran yang terganggu, apalagi terjadi di skala BUMN. Beberapa kasus perbankan yang merugikan nasabah harus menjadi pembelajaran bagi bank terutama di tengah tuntutan kemajuan tekonologi saat ini.

Wakil Ketua Umum Kadin Bali Bidang Fiskal dan Moneter, IB Kade Perdana, M.M. di Sanur, Minggu (14/5) kemarin mengatakan, kasus terganggunya layanan online banking di Bank Mandiri memang sudah tertangani, tetapi tidak bisa dilupakan begitu saja. Ini sama halnya seperti kasus-kasus perbankan lainnya seperti pembobolan dana di ATM, saldo nasabah berkurang tanpa ada transaksi dan lainnya yang masih sering terulang terjadi.

“Untuk itu, kasus terganggunya layanan online banking ini layak menjadi pembelajaran bagi bank lain untuk selalu berhati-hati,” ujarnya.

Mantan Dirut Bank Sinar ini menilai, semestinya sebelum di-launching harus diuji coba (test case) dulu berkali-kali pada lab simulasi internal sampai yakin betul bahwa penggabungan antara mobile banking  dan  internet banking benar-benar bebas risiko dan diyakini tidak akan timbul faktor technology error. Perbankan jangan membabi buta percaya begitu saja atau berkelebihan terhadap keandalan teknologi. Namanya teknologi, bagaimana pun canggihnya sejalan dengan perkembangan teknologi menjadi out of date (ketinggalan zaman) pada suatu ketika.

“Dengan demikian secara rutin dan reguler di tes kembali dan dilakukan penyempurnaan setiap saat diperlukan, mengingat kemajuan teknologi berjalan sangat cepat,” sarannya.

Di pihak lain, kasus ini rentan menjadi incaran para tech bank criminals (para penjahat teknologi bank) yang akan terus berusaha mencari celah maupun kelemahannya dengan berbagai cara menerobos untuk membobolnya karena banyak simpanan uang di sana yang bisa dipindahkan dengan mudahnya bila ditemukan cara membobolnya.

Selanjutnya bank juga harus memikirkan dari faktor manusianya, harus dijaga dan diyakini tidak akan timbul akibat dari human error sebagai penyebab kebobolan. Demikian juga jangan sampai timbul faktor errors in the implementation of supervision (kesalahan di dalam pelaksanaan pengawasan) dan terakhir jangan sampai terjadi karena faktor  mismanagement dalam mengelola teknologi informasi suatu bank.

Lebih lanjut IB Kade Perdana menyampaikan, sebagai BUMN dengan aset terbesar, telah go public dan sahamnya telah menjadi milik investor swasta dan masyarakat pada umumnya, semestinya kejadian tersebut tidak terjadi.(dik)

BAGIKAN