Pacu Kualitas, Produsen Perhiasan jangan Latah

16
LATAH - Produsen perhiasan Bali diharapkan tak latah dalam menyikapi peluang ekspor yang cerah. Dengan menumbuhkan kompetiai sehat lewat penciptaan desain dan motif baru daya saing produk perhiasan Bali makin pilih tanding di pasaran.

Peningkatan kualitas desain dan motif perhiasan (emas dan perak) Bali merupakan keharusan di era pasar global. Hal tersebut bukan saja untuk tetap mampu memenuhi selera pasar di dalam maupun luar negeri yang dinamis, namun juga menjadi motivasi bagi para produsen untuk terus berinovasi menghadirkan produk terbaru guna mengangkat harga jual produk. Apa lagi?

DESAIN dan motif  merupakan daya tarik utama perhiasan Bali, terutama desain dan motif tradisional Bali yang bersumber dari seni budaya daerah. Di dalamnya ada beragam jenis unsur ukiran Bali, parwa-parwa tradisional, dan lainnya.

Seiring globalisasi dan pengaruh pariwisata terhadap Bali, kini beragam desain dan motif kolaborasi maupun modern juga tak kalah banyak diproduksi produsen Bali. Ini bagian dari inovasi berkelanjutan guna tetap eksis.

Owner Gunungsari Silver, Agung Swastika menyampaikan, menyikapi persaingan global selain inovasi desain dan motif, kualitas material perhiasan Bali juga harus ditingkatkan. Selama ini perhiasan perak Bali masih banyak yang memanfaatkan material lokal. Ini berpotensi mengurangi kemampuan bersaing karena di pasar dunia kualitas material yang digunakan dalam produksi ada standarnya. Dia menyebut material perak berkualitas yakni 925 karat, yang bisa diperoleh di PT ANTAM Jakarta.

Tekannya yang tak kalah diperhatikan dalam inovasi adalah menciptakan produk yang khas dan tak sama dengan sesama rekan produsen lainnya. Istilahnya produsen tak boleh latah agar masing-masing tetap memiliki daya saing yang tinggi. Jika latah, dikhawatirkan selain hanya akan meningkatkan stok produk yang monoton, harga jualnya juga sulit ditingkatkan. Karena itu, memacu kreativitas para produsen perhiasan Bali penting diikuti pelatihan desain dan motif dengan begitu setiap produsen punya jati diri pada setiap karya desain dan motif perhiasan yang dibuat.

Pengamat ekonomi Ida Bagus Udayana Putra, S.E., M.M. menyampaikan, sikap latah tak relevan bagi produsen menghadapi persaingan global yang kian sengit. Selain bisa mematikan kreativitas produsen lain, persaingan juga tak sehat. Perlu ditumbuhkan persaingan sehat dalam merebut kepercayaan konsumen. Tak hanya lokal, nasional, juga ekspor. Itu karena peluang pasar ekspor sangat prospektif dan terbukti hingga kini terjadi peningkatan permintaan dari para buyer negara-negara Asia maupun Eropa.(gun)

BAGIKAN