Semarapura (Bisnis Bali)- Pemasaran kain tenun, baik itu kain tenun ikat ataupun kain tenun lainnya lebih didominasi warna alam. Hal ini yang membantu membangkitkan pemasaran kain tenun, termasuk kain tenun rangrang, cepuk dan beberapa jenis kain tenun lainnya yang diproduksi di Kabupaten Klungkung dengan 70 persen pemasaran dikuasi kain tenun alam.

Salah seorang perajin kain tenun, Ngurah Hendrawan saat ditemui, belum lama ini, mengatakan, kain tenun alam memiliki kualitas yang unggul. Terutama dalam bidang warna kain yang tidak mudah pudar. Jenis warna kain ini, dikatakannya, makin dicuci warna yang dihasilkan kian bagus, berbeda dengan kain yang memggunakan bahan pewarna sintetis, makin dicuci kualitas warna akan makin pudar.

Kain tenun alam yang mulai diciptakan pada tahun 2005 ini, dikatakannya, lebih laris dibandingkan kain tenun sintetis. “Penjualan 3 kali lipat lebih banyak dibandingkan kain tenun sintetis, sehingga produk ini yang kami unggulkan, karena mampu mempertahankan pemasaran kami,” katanya.

Harga yang diberikan kain tenun ini  lumayan tinggi dan bervariasi. Untuk selendang harga dipatok dari Rp 200.000 hingga Rp 500.000 per pcs, sedangkan untuk sarung atau kain harga mulai Rp 1 juta hingga Rp  2,5 juta per potong khusus kain tenun cepuk. Sedangkan kain tenun rangrang harga rata-rata Rp 1 juta per potong. Dia mengatakan, jenis kain yang paling laris adalah kain tenun cepuk.

Adapun warna alami yang digunakan dalam pewarnaan kain tenun ini berasal dari jenis tumbuh-tumbuhan, yang  mudah didapatkan. Seperti, akar mengkudu untuk warna merah, kayu nangka untuk warna kuning, daun nila untuk biru, kulit kayu mahoni untuk warna coklat dan daun mangga untuk warna hijau. Dia menuturkan, proses pewarnaan ini dimulai dari penggilingan bahan alami yang kemudian diperas dan dicari airnya. Setelah itu, benang yang digunakan untuk kain tenun direndam pada bahan pewarna alami tersebut. Proses perendaman ini, dikatakannya, memakan waktu hingga 2 hari 2 malam agar warna alami benar-benar terserap air.

Sementara itu, ditanya soal bahan atau benang yang digunakan dalam membuat kain tenun ini, dikatakannya, jika benang-benang tersebut didatangkan dari luar Bali yaitu daerah Tuban, Jawa Timur. Benang yang digunakan adalah benang kapas. “Dulunya benang ini mudah kita dapatkan di pulau Nusa Penida, namun saat ini hasil kapas di wilayah kami ini tidak bagus, sehingga harus mendatangkan dari luar,” katanya. (wid)

BAGIKAN