PUPUK kompos atau pupuk dari kotoran sapi adalah sumber nutrisi yang baik untuk menambah kesuburan dan kegemburan lahan pertanian. Pembuatan pupuk kompos ini juga memberikan nilai tambah bagi para peternak sapi yang selama ini tidak memanfaatkan kotoran ternaknya.

Selama ini peternak atau petani belum terlalu antusias membuat pupuk kompos ini. Mereka beranggapan pembuatan pupuk kompos ruwet dan membutuhkan keahlian khusus. Melihat kondisi tersebut Ir. I Gede Sutapa, M.P., dosen Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa melakukan pengabdian masyarakat dan mengajak kelompok tani ternak di seluruh Bali untuk membuat pabrik pupuk kompos. Untuk itu, ia telah membentuk asosiasi petani produsen pupuk organik Bali.

“Petani ternak yang telah bergabung bersama kami telah memproduksi pupuk organik yang telah diuji laboratorium di Balai Penelitian Tanaman Bogor. Dengan merek pupuk organik super petani Bali, pupuk ini sudah kami pasarkan secara luas,” tuturnya.

Gabungan kelompok tani ini telah memiliki 7 pabrik di berbagai wilayah di antaranya di Kabupaten Jembrana, Kabupaten Bandung, Gianyar, Klungkung, dan Karangasem.

Untuk pemasaran sudah ada outlet di petani-petani sayur dan pihaknya juga bekerja sama dengan subak-subak. Per kilogram pupuk kompos dijual dengan harga Rp 1.600. Dari harga ini, kelompok tani ternak memperoleh kekuatan Rp 750/ kg.

Pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk kompos sebenarnya sederhana sehingga dapat dilakukan oleh peternak atau petani secara individu. Namun akan lebih baik dilakukan berkelompok, karena jumlah kotoran sapi yang diolah tentunya akan lebih banyak.

Untuk membuat pupuk kompos bahan yang dibutuhkan yaitu 1 ton kotoran sapi, kemudian 100 kg bahan organik kualitas tinggi seperti  sekam bakar, abu daun cengkeh, abu daun nila dan sabut kelapa dan 2 liter bio aktivator. “Bio-aktivator ini kami buat sendiri sehingga benar-benar terjamin kualitasnya,” ucapnya. (pur)

BAGIKAN