TINGGINYA konsumsi daging sapi di Indonesia yang belum dapat dipenuhi oleh peternak sapi lokal, mengakibatkan kebutuhan daging sapi harus dipenuhi dengan proses impor. Hal ini disampaikan Prof. Dr. Ir. I Nyoman Suparta, M.S., M.M.,  Ketua Perhimpunan Ilmuwan Sosial Ekonomi Peternakan Indonesia (Persepsi) Komda Bali.

Prof. I Nyoman Suparta memaparkan, melihat tingginya konsumsi daging sapi dalam negeri seharusnya menjadi potensi besar bagi pengembangan agribisnis peternakan sapi lokal. Bila sektor ini digarap secara maksimal, pemerintah tidak perlu lagi mengimpor daging sapi. Selama ini dari teknik budi daya menurut Prof. Suparta tidak ada masalah, hanya dari segi pemasaran yang memang masih perlu dibenahi.

Peternakan sapi memiliki potensi yang luar biasa dan juga memiliki pasar yang sangat besar di Indonesia. Berdasarkan data 2015 ada sekitar 15 juta ekor sapi, ternyata belum cukup untuk memenuhi kebutuhan daging sapi nasional karena kebutuhan masih jauh di atas itu. Dengan demikian, agribisnis peternakan sapi masih sangat layak untuk dikembangkan.

“Ada dua program yang dapat dikembangkan yaitu pengembangan sapi lokal atau pengembangan sapi anakan impor, baik dari Australia atau dari manapun kemudian diternakkan di Indonesia,” katanya. (pur)

BAGIKAN