Denpasar (Bisnis Bali) –Di luar berbagai potensi yang ditawarkan financial technology (fintech) company dalam mendorong peningkatan akses keuangan masyarakat, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mengingatkan kepada pelaku jasa keuangan ada beberapa tantangan yang perlu mendapat perhatian. Apa saja tantangannya? Berikut laporannya.

Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Regional 8 Bali-Nusra, Nasirwan Ilyas di Renon, Kamis (20/4) mengatakan, tantangan pertama yaitu mengingat fintech company merupakan perusahaan yang padat teknologi informasi, maka terdapat platform failure risk yang perlu diantisipasi oleh perusahaan.

“Khususnya terhadap ancaman yang menyasar integritas sistem baik dari dalam maupun dari luar, seperti virus maupun hacker,” katanya.

Tantangan kedua, mengingat belum terdapat standar mekanisme operasional bagi fintech, khususnya yang berspesialisasi pada kegiatan pembiayaan kredit, terdapat potensi risiko operasional yang mencakup antara lain risiko gagal bayar, fraud/penipuan, pencucian uang dan lainnya. Ketiga, fintech company mengandalkan algoritma big data yang komprehensif dengan cakupan data nasabah yang luas (termasuk data dari media sosial) dalam melakukan credit scoring.

Menurut Nasirwan, hal itu perlu diantisipasi kemungkinan terjadinya cross selling, masalah perlindungan privasi dan keamanan data nasabah yang telah dikumpulkannya.

Karenanya, ia mengatakan, untuk mengantisipasi potensi tantangan tersebut, pengaturan atau regulasi lebih lanjut terkait bisnis fintech menjadi sangat penting. “Regulasi tersebut mencakup aspek teknologi, keamanan operasional, SDM, serta manajemen risiko,” katanya. (dik)

BAGIKAN