SETELAH diterpa isu penyakit, permintaan bibit babi (kucit) masih tetap tinggi. Daging babi banyak dibutuhkan oleh masyarakat Bali. Selain sebagai kebutuhan konsumsi sehari-hari, babi juga dibutuhkan untuk upacara bagi umat hindu di Bali.

Ini menjadi peluang bisnis yang dimanfaatkan banyak anggota masyarakat Bali untuk berternak babi. Selain dijual dengan bentuk daging potong, peternak juga menjual dalam bentuk bibit babi.

Salah satu peternak yang mengembangkan peternakan babi berada di wilayah Demulih, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli bernama Wayan Oka. “Saya sudah mengembangkan peternakan babi selama tiga tahun. Peternakan ini fokus menjual babi dalam bentuk bibit,” tukasnya.

Selama beternak, peternak lebih memilih membeli induk, yang nantinya dipelihara sehingga beberapa bulan kemudian siap dikawinkan. Setelah hamil selama seratus lima belas hari, induk babi sudah siap melahirkan. Sekali melahirkan induk babi bisa melahirkan anak babi 10 hingga 12 ekor. Dalam proses perkawinan, peternak menyewa babi lain yang siap kawin dengan babi miliknya.

Untuk biaya sekali kawin, peternak cukup mengeluarkan uang Rp100.000.  Khusus induk babi, peternak membeli dengan harga kisaran Rp2,5 juta. Bibit babi sangatlah laris. Peternak tidak sampai susah payah memasarkan ke luar daerah. Peternak cukup diam di rumah dan banyak pembeli berdatangan. “Bibit babi saya dijual dengan kisaran harga Rp450.000-600.000 per ekor,” ungkapnya.(pur)

BAGIKAN