Lukisan Lontar Tenganan Jadi Daya Tarik Wisman  

21
  Salah seorang pedagang suvenir lukisan dari lontar sedang melayani wisman. (aya)

Amlapura (Bisnis Bali) – Dulu lontar-lontar berisi mantra-mantra suci, namun kini hanya sedikit orang yang memiliki kemampuan untuk membuat tulisan maupun lukisan di daun lontar. Pun tak banyak yang bisa menulis dalam huruf Bali kuno dalam Bahasa Sansekerta. Namun, tradisi ini seakan tak punah di Desa Tenganan Pegringsingan yang berada di Karangasem. Nyoman Dana  buktinya. Ia sudah mahir membuat lukisan lontar yang kini cenderung dilirik konsumen, terutama dari wisatawan mancanegara (wisman). “Rata-rata selalu ada penjualan produk kami ini setiap harinya,” ujarnya.

Lanjutnya, keahliannya membuat lukisan lontar beralih fungsi menjadi seni kerajinan tangan untuk kebutuhan suvenir bagi para turis. “Setidaknya, keahlian ini bisa memenuhi kebutuhan ekonomi kami di sini,” ungkapnya. Lukisan yang biasa digoreskan biasanya seputar kisah-kisah perwayangan dengan harga mulai Rp 150.000 per set.

Katanya, pembeli pun bisa membubuhkan namanya di lukisan tersebut. Paling favorit tentu saja nama pasangan, kekasih atau suami-istri. Lukisan lontar sebenarnya sederhana saja, hanya mengandalkan daun lontar yang disambung-sambungkan dengan tali dan penutupnya dari bambu yang telah diukir.

Sementara bahan untuk melukisnya adalah, semacam pengukir dengan mata pisau yang digoreskan ke lontar. Lalu agar goresan itu terlihat, goresan digosokan dengan kemiri yang telah dibakar.

Kemiri bakar yang hitam legam itu pun membuat goresan menjadi hitam. Setelah diolesi kemiri, hasil olesan kemudian dibersihkan dengan cairan dari minyak. Konon ini membuat daun menjadi lebih awet. Daun lontar sendiri diambil dari daun lontar atau nira yang sudah tua. Daun ini lalu dijemur sampai berubah warna jadi kuning kecokelatan. Setelah itu daun direndam dan dikeringkan. Baru kemudian direbus dan dijemur kembali. Kemudian daun lembar ditipiskan dengan alat dari kayu, hasilnya agar daun lurus dan tak bergelombang. Hasil akhir bernama lempir pun siap dilukis. (aya)

BAGIKAN