Sosialisasi  ’’Human Trafficking’’ Lindungi Anak dari Tindak Perdagangan Manusia

35
Sosialisasi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) , Human Traffiking, dan UU Perlindungan Anak di Desa Belega Kecamatan Blahbatuh Gianyar. (kup)

Gianyar (Bisnis Bali) – Terbongkarnya kasus menghebohkan tentang perdagangan manusia (human trafficking) kembali menguncang masyarakat. Awal 2017 ini terbongkar beberapa kasus perdagangan anak di bawah umur. Kasus ini  membuat kita menjadi sadar betapa lemahnya perlindungan terhadap anak selama ini, hingga kasus kekerasan terhadap anak berulang kali terjadi.

Anak- anak  dan perempuan sangat rentan terkena kasus human trafficking, mereka sangat mudah dibujuk, diperdaya dan diming-imingi dengan janji yang mengiurkan. Bentuk perdagangan orang dapat berbentuk pembantu rumah tangga, pekerja seksual, pengemis, penjualan bayi dan lain sebagainya. Hal ini dipaparkan oleh narasumber dari Unit PPA Polres Gianyar, Ayu Ningrum SH., saat sosialisasi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), human trafficking, dan UU Perlindungan Anak, yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Gianyar,  di Desa Belega, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Jumat ( 17 /3).

Seperti kasus perdagangan anak di bawah umur yang terjadi baru-baru ini, sebagian besar korban diperdaya dengan gaji atau uang yang cukup menggiurkan. Menurut Ayu Ningrum, bahkan saat ini penipuan bisa dilakukan dengan modus duta budaya, seni tari bahkan perekrutan kini menggunakan media online seperti, facebook, twiiter dan lain-lainnya.

Oleh karena itu, Ayu Ningrum menekankan pada peserta yang terdiri dari ibu-ibu PKK Desa Belega dan beberapa tokoh masyarakat. Keluarga adalah orang pertama yang mampu mencegah terjadinya human trafficking, setelah itu lingkungan sekitar dan pemerintah sebagai pemangku jabatan melalui berbagai peraturannya.

Korban human trafficking atau perdagangan orang biasanya mereka yang berasal dari keluarga miskin, putus sekolah, broken home, korban KDRT, anak jalanan dan lain-lainnya. Mereka-mereka inilah biasanya kelompok yang paling mudah dibujuk dengan iming-iming sesuatu. Oleh karena itulah diharapkan para orang tua, keluarga maupun masyarakat sekitar agar selalu memberikan perhatian maupun perlindungan pada anak. ‘’Buat mereka aman dari jangkauan tindak kekerasan dan perdagangan orang,’’ tandasnya. (kup)

BAGIKAN