Persoalan kemiskinan bukan sekadar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang juga perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan pada periode yang sama. Periode Maret-September 2016, perkembangan tingkat kemiskinan di Bali memang mengalami penurunan 3,24 ribu orang. Namun ironisnya, penurunan tersebut tak searah dengan indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan di Pulau Dewata yang malah mengalami kenaikan pada periode sama. Apa yang menyebabkan?

KONDISI perlambatan kondisi ekonomi yang membayangi Provinsi Bali tampaknya mampu dijawab oleh pemerintah daerah dengan memperkecil jumlah penduduk miskin pada periode Maret-September 2016 lalu. Itu tercermin dari data dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS) Bali yang mencatat jumlah penduduk miskin di Pulau Dewata pada September 2016 mencapai 174,94 ribu orang (4,15 persen). Kondisi tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan jumlah penduduk miskin pada Maret 2016 yang tercatat 178,18 ribu, atau terjadi penurunan jumlah penduduk miskin mencapai 3,24 ribu orang.

Secara persentase, penduduk miskin di Bali juga mengalami penurunan tercatat dari 4,25 persen pada Maret 2016  menjadi 4,15 persen pada September 2016. Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode Maret-September 2016, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan mengalami penurunan, tercatat 96,98 ribu orang pada Maret 2016 menjadi 93,74 ribu orang pada September 2016. Sementara itu jumlah penduduk miskin di daerah perdesaan tidak mengalami perubahan.

“Garis Kemiskinan digunakan sebagai suatu batas untuk mengelompokkan penduduk menjadi miskin atau tidak miskin. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan,” tutur Kepala BPS Bali, Adi Nugroho di Denpasar.(man)

BAGIKAN