Lawan Efek Buruk Makanan, ’’Slow Food’’ Kini Jadi Gaya Hidup  

16

Denpasar (Bisnis Bali) – Seiring berjalannya waktu, upaya untuk melawan efek buruk makanan cepat saji (fast food) oleh gerakan makanan lambat saji (slow food), kini terus menguat dan menjadi trend setter serta gaya hidup saat ini. Terbukti, gerakan Slow Food kini sudah menyebar hingga 150 negara, termasuk Indonesia.

Hal itu diungkapkan Ardi, salah seorang  Marketing Manager produk saos dan kecap, Jumat (1/2), di Denpasar.

’’Gerakan slow food yang kini menjadi tren ini, menganjurkan untuk mengkonsumsi makanan tradisional yang telah diolah secara alami sehingga lebih sehat,’’ ujarnya.

Lanjutnya, Siput merupakan logo dari gerakan slow food, yang diartikan sebagai hewan mollusca yang gerakannya sangat lambat dan tenang. Hal ini merefleksikan pola makan manusia yang tidak mengkonsumsi fast food, dan menjalankan pola makan ini mampu mencerna nutrisi secara lengkap. (aya)

BAGIKAN