Sejahterakan Petani   2017, Bisnis Inklusif jadi  Salah Satu Pendekatan Bangun Pertanian Bali   

22

Denpasar (Bisnis Bali) – Pembangunan sektor pertanian tidak dapat tercapai tujuannya secara baik bagi para pelaku-pelakunya, terutama para petani sebagai produsennya. Tidak sedikit bahwa ternyata bagian yang diterima oleh petani terhadap harga produknya di tingkat konsumen masih relatif kecil. Kondisi ini tidak dapat dibiarkan berlangsung terus menerus, sehingga diperlukan adanya pendekatan yang memastikan adanya peningkatan pendapatan bagi para petani.

Menurut pengamat masalah pertanian, Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc. MMA., Rabu (4/1), mengungkapkan,  mengawali tahun 2017 ini, salah satu pendekatannya adalah bisnis inklusif untuk beberapa komoditas yang ada di Bali. Bisnis inklusif yang dimaksudkan secara praktis adalah keterlibatan peran dari masing-masing aktor pasar, mulai dari para petani, kelompok petani, pengusaha termasuk pemerintah sesuai dengan model bisnisnya dalam suatu kemitraan usaha.

“Setiap aktor pasar saling berbagi peranan dalam menjalankan bisnis inklusif ini. Keseluruhan aktor pasar harus membuat model bisnis terlebih dahulu guna dapat dipastikan siapa melakukan peran apa dan akan memperoleh keuntungan sedemikian rupa,” tuturnya. (man)

BAGIKAN