WACANA pemerintah yang terus menggaungkan swasembada pangan di sektor pertanian secara umum, tampaknya tahun ini hanya sebatas impian semata. Betapa tidak, tahun ini beberapa komoditi di pasaran malah mengalami lonjakan yang signifikan, terutama terjadi pada momen hari raya besar seiring dengan meningkatnya permintaan pasar. Akibatnya, impor pun dilakukan untuk meredam gejolak harga pada tahun ini. Mengapa bisa terjadi?

Di awal masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, memprogramkan untuk kembali meraih swasembada pangan seperti yang dulu pernah dicapai pada masa kepemimpinan Presiden Suharto. Terkait hal tersebut berbagai program telah dijalankan, bahkan menjadi salah satu yang tertuang dalam program Nawacita, yaitu mewujudkan kemandirian ekonomi nasional dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik, salah satunya sektor pertanian dalam arti luas melalui upaya membangun dan mewujudkan kedaulatan pangan.

Sayangnya, wacana tersebut menjadi pupus, dimulai dengan gejolak harga yang terjadi pada bulan Ramadhan dan Lebaran lalu. Ditandai dengan harga kebutuhan bahan pangan yang naik drastis dari kondisi normal. Diawali dengan mahalnya beraneka bumbu-bumbuan, kemudian naiknya harga gula pasir, dan konsumen dihadapkan pada mahalnya harga daging sapi di pasaran pada saat itu. Menyikapi hal tersebut, Presiden Jokowi mewacanakan agar harga  daging sapi di pasaran bisa ditekan dan tidak melebihi kisaran Rp 80 ribu per kg – Rp 85 ribu per kg. Wacana tersebut diwujudkan melakukan impor daging sapi yang dipercayakan pada Bulog dengan mendatangkan daging sapi impor beku asal Australia mencapai 300 ton, dan volume tersebut  terus ditambah seiring dengan meningkatnya konsumsi daging sapi hingga mencapai 4.000 ton.(man)

BAGIKAN