Masih Langka, Budi Daya Jagung Hitam Prospektif

99

SELAMA ini masyarakat hanya mengetahui jagung manis dan jagung ketan, sementara jagung hitam belum banyak yang mengetahuinya. Sebagai suflayer baby timun ke hotel dan supermarket, Tami Suharto mendengar ada permintaan jagung hitam untuk wisatawan yang ada di Bali, terutama komunitas Eropa, Belanda dan Jerman.
Mendengar permintaan ini, petani asal Banjar Babakan, Cau Blayu, Marga, Tabanan ini merasa penasaran dan mencoba membudidayakan. Pada awal budi daya memang diakui sempat gagal, namun kemudian ia terus mencoba hingga akhirnya sukses. Jagung hitam dari segi tongkol memang lebih kecil dari jagung biasa. “Kalau jagung biasa panjang tongkol mencapai 20-25 cm. Sementara jagung hitam hanya 10 cm,” ungkapnya. Awal budi daya Tami hanya menanam 400 pohon. Hasilnya ternyata mendapat respons positif dari pasar. Saat ini pihaknya kembali mengembangkan jagung hitam karena prospeknya sangat menjanjikan. Selain masih sangat sedikit petani yang membudidayakan jagung hitam. Selama ini permintaan jagung hitam didatangkan dari luar negeri.
“Budi daya jagung hitam memang harus dilakukan secara organik. Karena dari uji coba yang saya lakukan dengan sistem konvensional dan organik, ternyata hasil dari pertanian yang menggunakan pupuk kimia tidak seperti yang diharapkan,” tukasnya. (pur)

BAGIKAN