Catatan Akhir Tahun 2016 –raster Diwarnai Aksi ”Banting” Harga, saat Tepat Beli Produk Properti

20
PELUANG - 2016 penjualan produk properti melesu. Marak produk properti dijual murah-murah. Merupakan saatnya bagi investor membeli karena tahun-tahun mendatang bisnis properti akan kembali booming.

2016 dapat dibilang merupakan tahun lesunya penjualan produk properti (rumah, tanah kapling, dan lainnya) di Bali. Hal tersebut jelas karena terimbas dampak melambatnya perekonomian 2015 yang ditandai masih tingginya suku bunga kredit dalam hal ini kredit pemilikan rumah (KPR) juga deregulasi lainnya untuk sektor properti yang dipandang pengembang belum memihak. Kenapa di tengah melesunya penjualan produk properti yang ditandai maraknya produk properti dijual murah-murah, justru merupakan saatnya bagi investor membeli?

HAL tersebut jelas masuk dalam logika berbisnis, apalagi siklus bisnis properti 2016 memang sedang dalam kondisi menurun. Artinya, selektivitas investor tetap diperlukan untuk mendapatkan sejumlah produk properti dengan harga relatif murah, untuk bisa dijual berlipat-lipat pada tahun-tahun mendatang. Ini jelas akan jadi kenyataan bercermin dari situasi  bisnis properti tahun-tahun terdahulu. Contohnya 2013-2014 properti Bali booming, padahal 1998 kita juga tahu krisis moneter dan kondisi penjualan sulit. Bisnis properti Bali 2016 lesu selain karena regulasi yang dihadapi pengembang sangat ketat, bunga KPR rata-rata masih tinggi, kondisi perekonomian masyarakat juga tertatih-tatih. Jangankan merencanakan membeli rumah baru, bagi sebagian anggota masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja masih harua berusaha keras. Namun patut disyukuri upaya pemerintah Jokowi-JK menggenjot proyek infrastruktur diharapkan sedikit demi sedikit mulai bisa menggeliatkan perekonomian.

Berdasarkan data-data yang dipaparkan oleh Bank Indonesia (BI), indikasi pertumbuhan properti pada semester II 2016 masih rendah. Untuk itu, BI kembali menyempurnakan relaksasi ketentuan loan to value (LTV)/finance to value (FTV). Relaksasi ini diharapkan mampu  mendorong berjalannya fungsi intermediasi perbankan sehingga mampu mendorong perbankan menurunkan suku bunga KPR. Selain itu pada akhir tahun ini akan banyak diturunkan kebijakan pusat tentang properti sehingga pada tahun depan peluang tumbuh makin besar. Kalangan pebisnis properti Bali mesti sudah membaca sejumlah agenda sentral tahun mendatang sehingga diharapkan bisa berpengaruh positif pada bisnis properti. (gun

BAGIKAN