Alih fungsi lahan produktif di Bali cukup tinggi. Hal ini dikarenakan Bali diminati masyarakat dunia sehingga wilayah Bali dihuni masyarakat lokal, domestik dan asing. Namun, untuk mengantisipasi alih fungsi juga dapat dilakukan dengan beberapa strategi. Di antaranya lahan pertanian produktif bebas pajak dan pemerintah membantu meningkatkan nilai jual komoditas pertanian. Apa lagi?

LUAS lahan di Bali 81.165 hektar. Setiap tahunnya terjadi  alih fungsi seluas 750 hektar. Alif fungsi terbesar ada di wilayah Denpasar, Badung, Tabanan, Gianyar dan lainnya. Seperti di Denpasar, saat ini luas lahan pertanian tercatat 2.479 hektar. Terjadi alih fungsi per tahunnya  rata-rata 15 hektar sampai 20 hektar.
Pemerhati pertanian, Ir. Made Rai Sujaya menegaskan, di Bali terjadi alih fungsi lahan pertanian menjadi fungsi lainnya cukup tinggi. Kalau dirata-ratakan mencapai 7 sampai 10 persen dari luas lahan produktif per tahunnya. Jika dibiarkan, lahan pertanian dalam belasan tahun ke depan akan habis, terutama yang ada di kota besar di Bali, seperti Denpasar dan Kabupaten Badung, khususnya Badung selatan. ”Kami dengar ada kebijakan pemerintah memberikan subsidi pajak. Hal tersebut tepat sehingga masyarakat yang punya lahan pertanian tidak menjadi beban. Sebab, banyak masyarakat menjual lahan pertaniannya karena terbebani oleh pajak. Selama ini hasil bertani sangat rendah,” katanya.
Pemerhati sekaligus praktisi pertanian, Ir. Nengah Gastawan mengakui, alih fungsi lahan di Bali per tahunnya memang cukup tinggi, khususnya dimanfaatkan sebagai lahan permukiman. Kondisi ini dampak Bali sebagai daerah yang diminati masyarakat dari seluruh dunia. Selain aman, nyaman tinggal di Bali juga sebagai tempat investasi yang sangat menguntungkan. Semisal,  penyediaan tempat tinggal (rumah) karena kebutuhan cukup tinggi. Dampaknya alih fungsi lahan pertanian berubah ke pemukiman tak terbendung. (sta)