Harga Telur ”Bergairah”, Peternak saja tetap Resah

31
ist TELUR - Stok telur ayam di tingkat peternak yang belum tersalurkan karena lemahnya daya beli pasar.

Setelah cukup lama harga telur ayam di tingkat peternak bertengger di kisaran Rp 900 per butir, bahkan sempat menginjak angka Rp 800 per butir, kini harganya mulai mengalami lonjakan. Telur diperdagangkan Rp 1.000 per butir. Meski harga mulai bergairah, sejumlah peternak ayam petelur ini tetap saja resah. Apa sebabnya?

MENJADI salah satu bahan baku untuk kebutuhan utama bagi masyarakat dan sejumlah sektor usaha pengolahan, tampaknya tidak menjamin harga jual telur ayam di pasaran tetap stabil. Betapa tidak, harga telur ayam di pasaran malah riskan mengalami gejolak, malah belakangan mengalami kecenderungan penurunan harga. Kondisi tersebut tidak searah dengan biaya produksi usaha yang makin mahal sekarang ini.
Tidak beruntungnya nasib usaha di sektor peternakan ayam petelur ini setidaknya juga tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali. Tercatat November 2016 lalu, nilai tukar petani ( NTP) subsektor peternakan (NTP-Pt) tercatat mengalami penurunan mencapai 0,80 persen, dari 116,85 menjadi 115,92. Secara umum penurunan ini disebabkan oleh indeks harga diterima petani (It) yang turun mencapai 0,42 persen. Sebaliknya indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan 0,39 persen.
Terjadinya penurunan It dipicu oleh turunnya harga pada kelompok ternak besar dan hasil ternak masing-masing 0,93 persen dan 0,39 persen. Sementara itu, kelompok ternak kecil dan unggas tercatat mengalami kenaikan masing-masing 0,62 persen dan 1,11 persen. Secara umum, beberapa komoditas peternakan yang mendorong turunnya It, antara lain sapi potong dan telur itik. Di sisi lain, peningkatan pada Ib dipicu oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga dan indeks BPPBM masing-masing 0,54 persen dan 0,24 persen. (man)