2017, Sektor Properti Diprediksi Meningkat 15 Persen

86
  Real Estate Indonesia (REI) Bali dan Bank BPD Bali menaruh keoptimisan daya serap perumahan subsidi dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) di Singaraja yang memiliki pasar cukup prospektif. (ist)

Singaraja (Bisnis Bali) – Sektor properti akan kembali menggairah, seiring percepatan ekonomi dan serangkaian kebijakan pemerintah di tahun ini. Melemahnya pasar properti di 2015 dan 2016 memang telah diperkirakan sebelumnya. Hal tersebut merupakan siklus 5 tahunan dari bisnis property di mana pada tahun-tahun sebelumnya, bisnis properti boleh dikatakan berada dalam “zaman keemasan”.

I Gede Armadayasa yang juga Direktur Mahardana Property Lovina, ketika diwawancarai Bisnis Bali, Selasa (6/12), di Desa Kayu Putih, Lovina mengatakan, pertumbuhan pasar perumahan di periode 2010 hingga 2012 terjadi peningkatan yang signifikan dengan kenaikan nilai KPR mencapai 120 persen  lebih dalam 2 tahun, termasuk pembelian perumahan secara cash dan bertahap. Maka dari itu, pihaknya meyakini pada 2017 ini bisnis properti di Indonesia menuju titik balik.

“Saya opitimis prospek pasar properti Indonesia kembali menemukan titik terang dibandingkan tahun sebelumnya, di mana yang menjadi salah satu pendorongnya adalah sinyal positif dari pemerintah pusat yang berupaya mendorong realisasi proyek-proyek infrastruktur secara signifikan,” ungkapnya.

Saat ini, lanjutnya, upaya pemerintah tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan sektor riil terhitung awal 2016. “Apabila percepatan ekonomi dapat direalisasikan di tahun ini, maka saya pribadi merasa sangat optimis bahwa sektor properti dapat kembali menguat pada 2019-2020,” jelasnya. (ira)

BAGIKAN