Terkendala Permodalan, Pelaku UMKM harus Dikawal

14

Singaraja (Bisnis Bali) – Sejumlah pelaku usaha di Buleleng, mengalami keterbatasan permodalan dalam pengembangan usahanya. Hal ini tentu saja akan berimbas pada hasil dan proses produksi yang tidak tergarap secara maksimal.

Salah seorang pelaku UMKM di Desa Kalianget, Luh Sumarini, Senin (5/12) mengatakan, sejumlah pelaku UMKM seperti kerajinan tenun, untuk menjaga kualitas serta kuantitas kerajinan agar tetap memiliki nilai jual tinggi, tentu harus mengedepankan bahan baku yang berkualitas. Sementara untuk mendapatkan bahan baku yang berkualitas dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Makin tinggi permintaan bahan baku berkualitas, cenderung membuat harga bahan baku tersebut melambung. Hal inilah yang membuat sejumlah industri kerajinan makin terpuruk.

Ia mengaku tetap bertahan, meski banyak konsumen mengeluhkan harga kain tenun yang cenderung mahal. Hal ini tidak terlepas dari bahan baku yang digunakan juga cukup mahal. Misalnya benang sutra putih yang merupakan bahan utama dari pembuatan kain tenun, harga per bantal seharga Rp 3,5 juta. Di mana per bantal terdapat 50 tukel, dari 50 tukel hanya mampu menghasilkan 20 lembar kain endek. Sementara proses pewarnaan mengunakan serat warna khusus, proses los, nyatri dan berbagai tahapan lainnya juga membutuhkan biaya untuk upah tenaga kerja. (ira)

BAGIKAN