Prof. Dr. Nyoman Suparta Kembali Terpilih sebagai Ketua DPD HKTI Bali

33
Prof., Dr Suparta (tengah-tengah) terpilih untuk ke tiga kalinya sebagai Ketua DPD HKTI Bali. (man/)

Denpasar (Bisnis Bali) – Prof. Dr. Nyoman Suparta kembali terpilih sebagai Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Bali untuk masa periode 2016-2021. Terpilihnya Suparta untuk masa jabatan ke tiga kalinya ini, melalui proses aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda) yang berlangsung di Gedung Wiswa Sabha Kantor Gubernur Bali, Jumat ( 2/12).

Hadir dalam Musda HKTI Bali Sekjen DPP HKTI Ir., Sadar Subagyo, Ketua Wanita Tani Indonesia, Oni Jafar, Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika, yang sekaligus membuka Musda HKTI Bali, Ketua Badan Pertimbangan Organisasi (BPO) HKTI Bali, Gede Subudi dan sejumlah pengurus DPD dan DPC HKTI kabupaten/kota di Bali.

Suparta usai terpilih dalam Musda HKTI mengungkapkan, setelah terpilih sebagai Ketua DPD HKTI Bali, ada beberapa program penajaman dari yang sudah dilakukan sebelumnya. Itu seiring dengan harapan berbagai kalangan kepada HKTI yang diharapkan untuk lebih menyentuh petani dan aktivatif pada kehidupan petani di lapangan. Untuk itu, pihaknya dalam waktu dekat akan menajamkan beberapa hal tersebut. Di antaranya, mengupayakan dan mendorong agar 2017 nanti akan terwujud Perda yang mewajibkan pihak hotel dan restoran di Bali untuk membeli produk hasil pertanian lokal.

“Pertimbangan itu kami dasari, jika dari hilir sudah ada komitmen yang jelas terkait pemasaran. Dampak ikutannya maka akan terjadi kelancaran pemasaran produk pertanian,” tuturnya.

Asumsinya, bila pemasaran produk pertanian sudah lancar, otomatis produk pertanian akan laku dan lakunya juga dengan harga yang berpihak ke petani. Katanya, kondisi tersebut sekaligus untuk menjawab permasalah terkait minimnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian, karena dinilai kurang menjanjikan keuntungan.

Lanjutnya, sejalan dengan itu pula penguatan di bidang kelembagaan di bidang pertanian juga akan dilakukan dalam waktu dekat. Salah satunya dengan merangkul para pengurus subak di Bali dalam kaitannya menguatkan kelembagaan subak sebagai besik pertanian di pulau dewata ini. Di sisi lain tambahnya, pada program mendatang, pihaknya juga akan berupaya untuk mengembangkan bisnis dari organisasi HKTI.

“Pengembangan bisnis ini akan menjadi sumber pendapatan untuk membiayai HKTI nantinya,” ujarnya.

Sementara itu, Ir., Sadar Subagyo dalam kesempatan tersebut berharap kepada Ketua terpilih agar HKTI Bali bisa menjadi advokasi bagi petani dengan bersinergi dengan pemerintah daerah. Sebab menurutnya, ada banyak hal yang perlu di advokasi, mengingat karakter sektor petanian secara nasional memang terpola untuk tidak bisa berkembang.

Contohnya, petani padi yang hanya dipola sebagai penjual padi, padahal untuk pendapatan yang lebih menguntungkan petani ini harus dipola agar bisa menjual produk dalam bentuk beras.

“Keuntungan menjual dalam bentuk gabah ini sangat kecil, jauh di bawah ketika petani ini mampu berproduksi dalam bentuk beras. Hal sama juga terjadi pada petani kelapa sawit yang hanya dipola untuk menghasilkan tandan buah segar, dimana itu keuntungannya sangat kecil dibanding ketika mampu menghasilkan CPO,” tandasnya.

Lanjutnya, bercermin dari kondisi tersebut harus ada advokasi kepada petani untuk mampu memperluas bidang usaha, sekaligus kaitannya guna mensejahtrakan petani. Menurutnya, mencapai hal itu, petani Bali sendiri dinilai mampu melakukan perluasan bidang usaha seiring dengan kondisi alam dan potensi daerah khususnya di bidang pertanian. (man/)