Petani Kopi Kintamani ”Terganggu” Jeruk

31

KOPI Kintamani sudah diakui dunia kenikmatannya. Namun sayangnya para petani kopi Kintamani, masih terganggu dengan budaya jeruk.
“Teknologi petani kopi di Bali sudah sangat bagus, hanya petani kita kurang berkonsentrasi dan masih terganggu oleh jeruk sehingga di sela-sela kopi ada jeruk atau sebaliknya di sela-sela jeruk ada kopi,” kata Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., M.MA., Dekan Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra Denpasar.

Dengan begitu, pada saat harga jual jeruk lebih tinggi, petani akan berkonsentrasi pada jeruk, sementara pertanian kopinya ditinggalkan, padahal kopi Kintamani memiliki rasa dan kualitas yang sangat bagus. Sayangnya saat ini tergantung oleh tumpang sarinya yaitu jeruk.
Dari segi produktivitas, petani Kintamani sangat bagus yaitu mencapai 700 kg hingga 1 ton per hektar dalam bentuk kopi OC atau petani lebih sering menyebutnya kopi beras, kopi yang sudah kering dan siap disangrai. Ini sangat bagus. Di tingkat nasional di IKRI Jember ada yang mencapai 1,5 ton, jadi petani Kintamani sudah hampir mendekati hasil tersebut.(pur)

BAGIKAN