DPK Meningkat, Kepercayaan Masyarakat kepada BPR Naik

18
kup DIPERCAYA - Peningkatan penempatan dana pihak ketiga di BPR menunjukkan BPR makin dipercaya masyarakat.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, perkembangan dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun bank perkreditan rakyat (BPR) di Bali terlihat meningkat pada 2016. Sejauhmana perlambatan ekonomi di 2016 berdampak pada kepercayaan masyarakat dalam menempatkan dana di BPR?

DANA pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun BPR di Bali per September 2015 Rp 6,4 triliun, sementara DPK yang berhasil dihimpun BPR di Bali per September 2016 Rp 7,9 triliun. Perkembangan DPK BPR dalam wilayah Bali posisi September 2016 sebesar 22,50 persen (yoy).
Sekretaris DPD Perbarindo Bali, Ketut Komplit mengatakan, DPK yang mampu dihimpun BPR Rp 7,9 triliun merupakan tabungan dan deposito. Pencapaian DPK masing-masing BPR sangat tergantung dari aset BPR. BPR beraset kecil tentunya wajib memiliki target pencapaian DPK lebih tinggi. Ini dikarena BPR harus mengejar volume pencapaian DPK termasuk pelemparan kredit.
Ia menjelaskan, pertumbuhan DPK BPR diharapkan mampu menutupi cost of found (biaya dana) dari DPK. “Jika tidak mampu menutupi biaya DPK, BPR dituntut mampu meningkatkan pertumbuhan DPK menjadi di atas 15 persen,” ucapnya.
Komisaris BPR Nusamba ini memaparkan, semua BPR di Bali sudah menargetkan pertumbuhan DPK 15-20 persen. Ini berdasarkan pertimbangan BPR banyak melempar kredit dengan suku bunga menurun. Dengan pendapatan bunga kredit yang relatif kecil, BPR idealnya bisa mencapai pertumbuhan DPK dan kredit mencapai minimal di kisaran 15-20 persen.
Berdasarkan data OJK per September 2016, pertumbuhan DPK BPR di Bali sudah mencapai 22,5 persen (yoy). Ini sudah melebihi 20 persen. Ini menunjukkan BPR sudah makin dipercaya masyarakat Bali.
Masyarakat kalangan menengah makin percaya dengan BPR. Ini  terlihat pertumbuhan deposito di BPR di Bali mencapai 27,7 persen. Kendala yang dihadapi BPR suku bunga deposito lebih tinggi dari suku bunga tabungan. Harga beli dana deposito lebih  mahal dibandingkan dana tabungan. Deposto lebih mahal, maka ke depan BPR perlu lebih mengoptimalkan produk tabungan.
Memasuki akhir Desember 2016,  pertumbuhan tabungan di BPR bisa lebih besar daripada deposito. Bunga tabungan lebih murah dibandingkan bunga deposito sehingga BPR akan lebih efisien melempar kembali DPK bersumber dari tabungan dalam bentuk kredit.
Deposito lebih banyak, maka cost of found menjadi lebih tinggi. Jika tabungan lebih banyak, BPR akan melakukan upaya efisiensi yang lebih besar. Ini akan berdampak pada suku bunga kredit bisa lebih rendah.  (kup)

BAGIKAN