Kopi Bali Bernilai Ekspor

30

MENIKMATI secangkir kopi pada pagi hari, mungkin sudah menjadi kebiasaan sebagian besar masyarakat Indonesia bahkan dunia. Ada dua jenis kopi yang beredar di pasar dunia yaitu arabika dan robusta. Kopi arabika nilai jualnya lebih tinggi dari kopi robusta, karena kualitasnya menurut pecinta kopi jauh lebih tinggi. 
“Bali memiliki kedua jenis kopi tersebut. Kopi arabika tumbuh di kawasan Kintamani, sementara jenis robusta tubuh di daerah Pupuan,” kata Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., MMA, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra Denpasar. Dari segi kualitas, kopi Bali sudah sangat terkenal, sehingga kopi Bali sudah banyak diekspor. Prospek kedua kopi ini sangat besar baik untuk konsumsi dalam negeri maupun kebutuhan ekspor.  Kopi Bali sudah mengantongi sertifikat melalui masyarakat perlindungan indikasi geografis (MPIG) Kintamani sehingga nilai ekspor kopi Bali cukup tinggi.
Kopi merupakan salah satu dari tiga komoditas perkebunan Bali yang mampu menembus pasaran luar negeri. Dua komoditas lainnya adalah kakao dan vanili. Dari data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Bali mengantongi devisa 60.131,42 dolar AS dari ekspor kopi selama semester I 2016, merosot dibanding semester yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 140.940,48 dolar AS.
Kondisi ini karena persaingan ketat antardaerah penggunaan kopi lainnya di Indonesia, seperti Flores, Jawa dan Ende. “Sekarang di Ende sudah sangat pesat perkembangannya dari segi kualitas. Ini akan menjadi pesaing yang berat bagi petani kopi Bali,” tukasnya.  (pur)

BAGIKAN