Musim hujan tak hanya menjadi angin segar bagi petani dengan terpenuhinya pengairan guna memulai proses tanam padi, namun kondisi yang sama juga menjadi permasalahan bagi proses budi daya. Betapa tidak, kondisi alam yang lembab membuat ancaman serangan hama penyakit pada tanamam padi menjadi meningkat. Akibatnya, produksi petani padi pun terancam. Lalau apa yang dilakukan petani menyikapi hal itu?

MUSIM hujan yang mulai terjadi beberapa waktu lalu disambut antusias petani di Bali, karena musim tanam yang terjadi di pengujung tahun ini dipastikan akan tepat waktu dengan terpenuhinya kebutuhan pengairan sebagai syarat utama untuk kebutuhan tanam. Namun, kini  ironisnya di tengah suka cita petani yang berharap bisa mendapatkan hasil panen maksimal pada musim panen yang jatuh pada awal tahun nanti, terganjal dengan ancaman serangan hama pada tanaman padi.
Di antaranya, ancaman hama penggerek batang, tikus, wereng coklat, blast, tungro dan xanthomonas. Ancaman hama tersebut muncul sering dengan kondisi kelembaban yang tinggi pada musim hujan, sehingga memacu tingkat pertumbuhan hama pada saat itu. Tingkat serangan hama yang tinggi, seringkali mengakibatkan tanaman padi menjadi rusak. Tidak menutup kemungkinan akan mengalami puso atau gagal panen.
Kepala UPT Perlindungan Tanaman Pangan Provinsi Bali, Ir. Nyoman Suastika mengungkapkan, memang ada kecenderungan pada musim hujan ini tingkat serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) khususnya hama pada tanaman padi di Bali mengalami peningkatan dibandingkan sebelumnya. Data yang ada, per Oktober 2016 OPT jenis penggerek batang sudah menyerang 45,10 hektar tanaman padi yang ada di kabupaten/kota di Bali. Selain itu, serangan OPT untuk tikus sudah menyerang dengan luas 126 hektar lahan pertanian di Bali dan telah mengakibatkan puso di Kabupaten Tabanan dengan luas 46 hektar, wereng coklat terjadi 1 hektar, blast 69,45 hektar, tungro 61,50 hektar, dan xznthomonas menyerang dengan luasan 23,20 hektar.
“Jika dikaitkan dengan target produksi pangan Provinsi Bali, serangan OPT tersebut memang cukup mengancam. Namun, kami telah berupaya memperkecil dampak dari tingkat serangan OPT tersebut,” tuturnya.(man)

BAGIKAN