Budi Daya Salak Perlu Rekayasa Teknologi

12
salak gula pasir sangat menjanjikan keuntungan besar ketimbang salak Bali, sehingga budi daya salak gula pasir patut lebih dikembangkan.

BUDI DAYA salak gula pasir sangat menjanjikan keuntungan besar ketimbang salak Bali, sehingga budi daya salak gula pasir patut lebih dikembangkan.
“Selisih keuntungan yang sangat signifikan terjadi dalam budi daya dua jenis salak tersebut,” kata Dr. Ir. I Ketut Arnawa, M.P., Wakil Rektor IV Unmas Denpasar. Saat panen raya budi daya salak gula pasir bisa menghasilkan Rp 58.500.000 saat panen raya, sedangkan salak Bali hanya Rp 9.750.000.
Lebih lanjut Arnawa memaparkan, budi daya salak selama ini yang mampu menghasilkan keuntungan besar adalah salak gula pasir. Sementara salak Bali tidak terlalu banyak memberikan keuntungan, apalagi salak yang dibudidayakan di luar Sibetan, Karangasem, yang menghasilkan salak dengan rasa sepet. Hal ini karena faktor tanah dan iklim yang berbeda, meskipun telah menggunakan bibit unggul yang sama.
“Karena itulah, sekarang Fakultas  Pertanian Universitas Mahasaraswati Denpasar tengah melakukan penelitian dengan mencari bibit unggul baru yang adaptasinya sesuai dengan daerah tumbuhnya,” katanya.

Kalau selama ini salak yang ditanam di Sibetan itu manis, namun bila ditanam di daerah lain hasilnya sepet. Untuk mencapai pemecahan persoalan tersebut dilakukan penelitian. Dengan mengupayakan adanya rekayasa teknologi agar salak yang ditanam di luar Sibetan juga dapat berbuah manis. (pur)