Permodalan BPR Tunjukan Tren Fluktuatif

27
Rangkaian acara Evaluasi Kinerja BPR Tahun 2016 Wilayah Bali dan Nusa Tenggara .(kup) 

Denpasar (Bisnis Bali) – Pada 2016 masuk dalam masa perlambatan ekonomi, sehingga berpengaruh pada operasional bank perkreditan rakyat (BPR). Kepala OJK Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara, Zulmi di sela-sela  acara Evaluasi Kinerja BPR 2016 Wilayah Bali dan Nusa Tenggara serta Outlook Ekonomi, Selasa (22/11) bertempat di Agung Ballroom – Grand Inna Bali Beach Hotel mengatakan, kinerja selama 9 bulan terakhir, kondisi permodalan BPR di Bali dan Nustra menunjukkan tren yang fluktuatif.

Ia mengungkapkan, evaluasi kinerja BPR melibatkan komisaris dan direktur masing-masing BPR yang ada di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Hasil evaluasi kinerja BPR ini diharapkan dijadikan dasar bagi BPR se-wilayah kerja Kantor Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara dalam mengembangkan usaha di tahun yang akan datang.

Ia menjelaskan, Kantor Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara mengawasi 181 BPR yang masing-masing tersebar di Bali sebanyak 138 BPR (137 BPRK dan 1 BPRS), di NTB sebanyak 32 BPR (29 BPRK dan 3 BPRS) dan di NTT sebanyak 11 BPR (BPRK).

Total aset BPR di Bali dan Nusa Tenggara tumbuh cukup baik, tercermin dari peningkatan total aset BPR di Bali dan Nusra sebesar 16,81 persen atau Rp 2,1 triliun yaitu dari Rp 12,5 triliun menjadi 14,6 triliun (yoy).

Dari sisi funding, dana pihak ketiga meningkat sebesar 15,35 persen atau Rp 1,22 triliun dari Rp 7,99 triliun menjadi Rp 9,21 triliun (yoy). Porsi DPK masih didominasi oleh deposito sebesar 72 persen, sementara tabungan sebesar 28 persen.

Pertumbuhan deposito (yoy) mencapai 26,38 persen atau Rp 1,38 triliun, dari Rp 5,24 triliun menjadi Rp 6,62 triliun. Sementara pertumbuhan tabungan (yoy) mencapai 10,44 persen atau Rp 244 miliar (dari Rp 2,34 triliun menjadi Rp 2,58 triliun).(kup)

BAGIKAN