Polemik mengenai standar Euro 4, yang kini menjadi hal yang paling sering didiskusikan oleh pelaku sektor otomotif kian santer terdengar. Apa dampaknya?

SAAT ini, persepsi pemerintah dan pelaku usaha mengenai standar emisi masih terbelah. Pemerintah menginginkan adanya regulasi terlebih dahulu sebagai payung hukum penerapan standar Euro 4 tersebut.

Sementara pelaku industri menilai ketersediaan bahan bakar menjadi poin utama. Dengan kata lain, Pertamina dituntut untuk segera menyediakan bahan bakar yang sesuai. Soal regulasi, bisa menyusul dan menyesuaikan dengan kapasitas produksi bahan bakar tersebut.

Pertamina selaku operator menginginkan adanya regulasi terlebih dahulu sebelum menambah investasi untuk pengembangan produksi bahan bakar yang sesuai dengan standar Euro 4. “Ini memang seperti telur sama ayam,” ujar Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan.

Permintaan pelaku industri agar pemerintah mampu menyediakan bahan bakar terlebih dahulu, katanya, memang tidak berlebihan dan cukup realistis.

Industri sejauh ini memang sangat berharap pemerintah menerapkan Euro 4, untuk memangkas ongkos produksi. Sebab selama ini ongkos produksi yang dikeluarkan perusahaan cukup besar. Dalam satu jenis kendaraan saja, perusahaan harus memproduksi dua kategori, yakni Euro 2 untuk memenuhi pasar domestik dan Euro 4 untuk memenuhi pasar global. (aya)

BAGIKAN