Bupati Giri Prasta Resmikan Stasiun Biodiesel Green School

50
ist BIODIESEL - Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta bersama anggota Komisi X DPR RI I Wayan Koster meresmikan stasiun pengisian biodiesel di Green School, Desa Sibangkaja, Abiansemal, Jumat (11/11) lalu.

Mangupura (Bisnis Bali) – Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta bersama anggota Komisi X DPR RI I Wayan Koster meresmikan stasiun pengisian biodiesel di Green School, Desa Sibangkaja, Abiansemal, Jumat (11/11) lalu. Biodiesel sebagai energi terbarukan merupakan hasil inovasi dari siswa Green School di bawah naungan Yayasan Kulkul bekerja sama dengan Yayasan Lengis Hijau yang mampu mengolah minyak jelantah menjadi biodiesel B100 yang ramah lingkungan.

 Peresmian stasiun pengisian biodiesel ditandai dengan pemotongan pita oleh Bupati dan penandatangan prasasti Bupati Giri Prasta bersama Wayan Koster. Bupati juga melakukan pengisian langsung biodiesel ke kendaraan. Usai peresmian Bupati bersama Wayan Koster sempat berkeliling di lingkungan sekolah internasional Green School. Peresmian tersebut juga dihadiri Direktur Bioenergi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Sujoko Harsono Hadi, Pembina Yayasan Kulkul Ni Putu Tirta Widanti, Ketua Yayasan Lengis Hijau AA Bagus Sudarsana.

Usai meresmikan, Bupati Giri Prasta menyampaikan apresiasi dan menyambut baik atas inovasi biodiesel dari Green School. Hal ini sejalan dengan komitmen Pemkab Badung yang telah mencanangkan satu SKPD harus mempunyai minimal satu inovasi. Menurut Bupati, inovasi biodiesel ini akan membuka peluang bisnis ke depannya. Bagaimana mengolah minyak jelantah yang semestinya dibuang, bisa diolah menjadi bahan bakar yang betul-betul ramah lingkungan. Untuk mendukung agar pengolahan biodiesel ini tetap jalan, ke depan Bupati akan berbicara dengan pihak hotel maupun restoran di Badung agar hasil limbah minyak jelantah tidak dibuang dan dapat dipasok ke Green School untuk diolah menjadi biodiesel ramah lingkungan.

Wayan Koster juga mendukung kegiatan pengolahan biodiesel ini. Katanya, di Bali sangat membutuhkan ini, dalam upaya menjaga lingkungan, serta konsumsi makanan yang sehat serta transportasi ramah lingkungan. “Inovasi ini perlu didukung dan diintegrasikan dengan pola pembangunan nasional semesta berencana di Kabupaten badung,” tambahnya.

Tesa Lonika, salah satu siswa kelas XI di Green School mengatakan, ada 40 siswa yang tergabung dalam kegiatan bio bus. Melalui kegiatan bio bus, siswa mengumpulkan minyak jelantah dari restoran di beberapa daerah di Bali. Setiap minggunya berhasil mengumpulkan minyak jelantah rata-rata 200 liter bekerja sama dengan Yayasan Lengis Hijau sebagai satu satunya pabrik biodiesel B100 di Bali. Minyak jelantah ini kemudian diolah menjadi biodiesel B100 yang mampu mengisi kendaraan bus di Green School. “Dalam pembuatan biodiesel tersebut ada produk namanya griserin yang kami buat menjadi sabun,” jelasnya.

Peresmian stasiun biodiesel ini merupakan momen bersejarah bagi generasi muda khususnya di Green School. “Kami bangga, mungkin aksi nyata dari kami ini dengan menciptakan biodiesel B100 menjadi yang pertama di Bali, bahkan Indonesia,” imbuhnya. Pihaknya juga mengharapkan pemerintah agar kegiatan ini, khususnya mendukung melalui regulasi agar minyak jelantah tidak lagi diperjualbelikan di pasar gelap, karena sangat berdampak buruk pada lingkungan maupun kesehatan masyarakat. (sar/)