Petani Asparagus Kantongi hingga Rp 1,5 Juta per Hari  

46

SELAIN dua narasumber di atas, talk show juga menampilkan dua petani sukses. Keduanya adalah Gede Adnyana yang bergerak di penangkaran benih padi dan yang kedua Nyoman Sudarta, petani sukses yang membudidayakan asparagus. Bagaimana kesaksiannya?

Adnyana mengaku menggeluti penangkaran benih sejak 2011. Nilai tambah yang diperolehnya, katanya, ada kelebihan sekitar Rp 200 per kilogram jika  menangkar gabah menjadi benih. Dengan nilai tambah Rp 200 per kg, penangkaran 40 ha dengan 7 ton per ha, petani akan memperoleh untung Rp56 juta. Ini dari peningkatan harga.
Selanjutnya mulai 2013, dia bersama kelompoknya memperoleh dukungan pemberdayaan penangkaran. Dengan program ini, dia mampu menjual benih bersertifikat Rp8.800 per kilogram. Jika harga dasar gabah Rp4.100 per kg, dari 7 ton petani akan merasakan nilai tambah hingga Rp 861 juta kotor.

Dia yakin dengan bekerja serius dan terobosan baru, profesi petani tetap menjanjikan. Dia pun menyatakan, benih yang dijualnya tak akan diserang hama karena bibit yang digunakan dipilih dari varietas unggul dan tahan hama. “Astungkara, hingga kini tak diganggu oleh hama,” katanya.

Sementara itu, petani asparagus Nyoman Sudarta menyatakan awalnya terjun sebagai petani cabai dan tomat. Hasilnya pun kembang kempis.

Namun sejak ada dukungan dari kementerian dan Pemkab Badung dan terbentuk Koperasi Merta Nadi, Sudarta yang mengaku terjun ke petani karena keadaan, beralih membudidayakan asparagus. Awalnya sempat takut juga sehingga dia hanya menanam di areal 10 are. Apa yang terjadi? Ternyata asparagus laku keras. Dari lahan 10 area ini, dia mengaku memperoleh keuntungan Rp100.000 hingga Rp 300.000 per hari.

Karena prospeknya bagus, dia pun secara bertahap menambah areal lahan asparagusnya. Saat ini sudah mencapai sekitar 60 are. Dengan luas lahan ini, Sudarta mampu mengantongi Rp 500.000 sampai Rp 1,5 juta per hari sepanjang tahun.

Selain terserap pasar, koperasi yang dibentuk juga memberikan jaminan harga. Asparagus ini sudah mulai dibudidayakan sekitar 80 orang petani. “Dengan kondisi ini, kami pastikan bangga menjadi petani,” tegasnya.

Sebelumnya Wakil Ketua DPRD Badung

Nyoman Karyana memberikan dukungan kepada Bupatyi untuk memajukan sektor pertanian. Walau demikian, dia minta stakeholder baik dari universitas, pekaseh dan yang lain menidaklanjuti. Dengan begitu, Badung akan menjadi kabupaten mandiri dari sisi pangan.

Wakil Bupati Badung Ketut Suiasa menambahkan, untuk mengelola produk pertanian, Badung akan membangun perusahaan daerah. Dengan begitu, produk yang dihasilkan petani nyambung karena ada yang mengurus pascapanennya. (sar/)

BAGIKAN