Kasus kejahatan perbankan salah satunya skimming masih terjadi di lapangan dan ini merugikan nasabah maupun perbankan. Solusi kini perbankan diharapkan segera mengganti kartu ATM nasabah yang masih menggunakan teknologi magnetik dengan ATM yang berteknologi chip. Gunakan chip, berapa besar potensi mencegah skimming?

SKIMMING merupakan tindakan pencurian informasi kartu kredit atau debit dengan cara menyalin informasi yang terdapat pada strip magnetik kartu kredit atau debit secara ilegal. Berdasarkan berbagai sumber, skimming adalah salah satu jenis penipuan yang masuk ke dalam metode phishing. Kejadian skimming rata-rata pernah dialami setiap perbankan dan kasus yang terbaru kebetulan dialami BRI di Mataram dan Tabanan.

Umumnya skimming dilakukan pelaku dengan mendapatkan data nomor kartu kredit atau debit korban. Caranya seperti fotokopi atau metode yang lebih canggih seperti menggunakan perangkat elektronik kecil (skimmer) untuk menggesek kartu lalu menyimpan ratusan nomor kartu kredit korban. Teknik skimming dilakukan dengan cara menggunakan alat yang ditempelkan pada slot mesin ATM (tempat memasukkan kartu ATM) dengan alat yang dikenal dengan nama skimmer. Modus operasinya adalah mengkloning data dari magnetic stripe yang terdapat pada kartu ATM milik nasabah.

Kini Bank Indonesia (BI) mewajibkan seluruh perbankan untuk menerbitkan kartu debet nasabah yang terpasang chip. Aturan tersebut terkemas dalam program National Standard Indonesia Chip Card Specification (NSICCS) yang wajib dijalankan oleh bank mulai 2017 hingga 2022 mendatang. Pemasangan chip di kartu debit ditargetkan secara bertahap. Pada awal 2019 BI menargetkan 30 persen kartu debit yang magnetic stripe akan dialihkan menggunakan kartu debit yang terpasang chip. Kemudian pada Januari 2020, 50 persen kartu kredit sudah terpasang chip.(dik)