Dari ”Talk Show” Bangga Jadi Petani Petani Badung Diproteksi dari Hulu hingga ke Hilir

28

Menyambut Hari Ulang Tahun ke-7 ibu kota Kabupaten Badung “Mangupura”, berbagai acara dilaksanakan. Selain Pesta Rakyat yang digelar di masing-masing kecamatan, Pemkab Badung juga menggelar Festival Seni Budaya dan konser musik yang menampilkan dua artis Ibu Kota Dewi Persik dan Cita Citata. Satu kegiatan lainnya berupa talk show “Bangga Jadi Petani”. Acara yang digelar di gedung Kerta Gosana Puspem Badung menggandeng Kelompok Media Bali Post (KMB) dan disiarkan langsung oleh Bali TV. Apa hasilnya?

DI hadapan ratusan pekaseh dan bendesa adat serta petani yang menjadi peserta talk show, Bupati Badung Nyoman Giri Prasta, S.Sos. yang tampil selaku keynot speaker memaparkan program-program kongkret yang dilakukan sehingga masyarakat bangga jadi petani. Diawali dengan pendataan potensi di 6 kecamatan yang ada di Badung. Selanjutnya, Pemkab Badung akan memberi proteksi atau dukungan mulai hulu hingga ke hilir.

Di hulu, ujar politisi PDI Perjuangan tersebut,  petani akan diberikan pembinaan maupun pelatihan. Di tengah, katanya, petani diberikan teknologi untuk kualitas produk yang lebih baik, dan di hilir berupa proteksi pasar.

Selain itu, tegasnya, pajak lahan pertanian nol persen alias tidak kena pajak. Dengan fasilitas pajak 0 persen, dia meyakini petani takkan terbebani dan ada gairah serta niat untuk mengelola lahan untuk sektor pertanian.

Hanya itukah? Ternyata belum. Program lainnya, Badung akan memberikan penguatan modal bagi subak mandiri atau subak lestari. Satu subak dialokasikan Rp2 miliar. Dana ini bisa digunakan untuk pembuatan lantai jemur, gudang penampungan, maupun membeli peralatan yang lebih modern terutama alat penggilingan.

Dengan alat penggilingan yang baik, katanya, produksi padi menjadi lebih bagus. Hitung-hitungannya, dengan alat penggilingan yang bagus, satu ton gabah akan menjadi 650 kg beras. Beras itu pun tak ada yang pecah. “Ini berbeda jika petani menggunakan alat lama. Selain jumlahnya jauh lebih kecil, beras yang dihasilkan juga pecah-pecah,” katanya.

Sisa dana tersebut, tegasnya, bisa dimanfaatkan untuk membeli beras petani sehingga mampu menangkal tengkulak. Namun dia mengingatkan, petani tak boleh sebagai mandor yang semuanya diupahkan.

Hal yang sama juga dilakukan di sektor perkebunan. Perkebunan manggis dan kopi misalnya, mulai pembibitan didanai. Pascapanen, hasil produksi dijamin terjual. Selain itu, Pemkab Badung akan membuat aplikasi harga produk pertanian. “Jika harga pasar di bawah patokan, pemerintah dipastikan turun tangan untuk memberikan subsidi. Namun sebaliknya jika harga di atas patokan, semuanya diberikan kepada petani,” tegasnya.

Menurutnya, semua akan diproteksi. “Yang penting produk pertanian berkualitas dan petani serius,” katanya.

Tak hanya itu, pemkab bekerja sama dengan subak akan merintis taman gumi banten yang membudidayakan tanaman upakara serta taman usada yang membudidayakan tanaman berkhasiat obat. “Kami ingin Badung berdaulat di bidang pangan,” katanya.

Narasumber lainnya, Wakil Dekan I Fakultas Pertanian Unud Dr. Ir. Ketut Suamba sepakat bahwa sektor pertanian harus memberikan input, proses, dan outcome. “Kebanggaan akan muncul jika petani bisa memenuhi kebutuhan hidup,” katanya.

Dengan kondisi sekarang yakni setiap petani hanya mengelola maksimal 30 are lahan, dia pesimis petani mampu memenuhi kebutuhan hidup. Walau begitu, dia pun memberikan alternatif strategis agar masyarakat bangga menjadi petani walaupun mengelola lahan yang terbatas.

Strateginya berupa rekayasa teknologi, kelembagaan, dan kebijakan. Di kelembagaan sosial saat ini telah ada subak. Ini perlu ditambah dengan unit-unit ekonomi yang perlu di-support pemerintah. Ini perlu didukung oleh agrobisnis. “Selama ini yang menjadi kendala petani adalah pascapanen. Karena itu, dalam hal pascapanen, pemerintah perlu melibatkan lulusan Teknologi Pertanian dalam mengolah produk pertanian yang dihasilkan,” katanya.

Satu lagi, pemerintah perlu memberikan asuransi pertanian. Ketika produk pertanian gagal panen akibat terserang hama atau yang lain, petani akan mendapatkan klaim. Dengan begitu, minimal modal petani akan kembali.

Apa yang harus dilakukan pemerintah? Menurutnya, pemerintah bisa mengasuransikan petani berdasarkan luas tanam. Jika memang pemerintah belum mampu membayar penuh premi asuransi tersebut, minimal pemerintah bisa mensubsidinya. “Asuransi ini sudah mulai dirintis pemerintah, baik di provinsi maupun di kabupaten dan kota,” katanya.

Selain Bupati Nyoman Giri Prasta, talk show yang dipandu Pemred Bali Post Nyoman Wirata tersebut juga dihadiri Wakil Bupati Ketut Suiasa, Wakil Ketua DPRD Badung Nyoman Karyana dan Made Sunarta, Kadis Pertanian IGAK Sudaratmaja, Kadis BMP IB Surya Suamba, staf ahli serta undangan lainnya. Acara ini melibatkan ratusan pekaseh dan bendesa adat di Badung.

Talk show ini dilengkapi dengan dialog dan tanya jawab antara narasumber dan peserta. Acara ini juga dilengkapi dengan penyerahan bibit pohon kelapa daksina dari Redpel Bali Post Dira Arsana dan diterima Bupati Badung Nyoman Giri Prasta.

Sebelum menjadi keynot speaker, Nyoman Giri Prasta sempat memberikan ucapan selamat datang kepada semua peserta. Dalam ucapan selamat datangnya, Bupati memaparkan pembangunan Badung dengan pola nasional semesta berencana. Semesta menyeluruh dan semesta terencana. Di dalamnya akan memprioritas lima bidang. Pertama, pangan sandang dan papan. Kedua, pendidikan kesehetan. Ketiga, jaminan sosial dan naker. Keempat, agama, adat, seni dan budaya, dan kelima pariwisata. (sar/)