Kontribusi Perempuan, Angkat Kuliner Lokal untuk Mendukung Pariwisata Bali

33

DALAM disertasi untuk memperoleh gelar Doktor pada program Studi Doktor Pariwisata Program Pascasarjana, Universitas Udayana, Putu Sucita Yanthy, mengangkat persoalan peran perempuan dalam mengangkat kuliner lokal untuk mendukung pariwisata Bali.

Hal ini dilatarbelakangi dalam beberapa tahun ini perempuan memainkan peranan penting dalam perkembangan pariwisata Bali khususnya lewat dunia kuliner. Akan tetapi,  kata Putu Sucita, kontribusi mereka jarang mendapat apresiasi.

“Penelitian-penelitian yang ada kebanyakan mengkaji perempuan sebagai pekerja menengah ke bawah, padahal dalam dunia kepariwisataan khususnya usaha kuliner banyak perempuan Bali yang tampil sebagai pemilik, pengelola, dan pengembang usaha yang tidak kalah suksesnya dengan laki-laki di sektor usaha pariwisata lainnya,” ujar Sucita yang ujian terbuka pada 2 November ini.

Melihat kondisi ini Putu Sucita mengkaji kontribusi perempuan dalam usaha kuliner untuk mendukung pariwisata Bali. Penelitian dilaksanakan di Kuta, Sanur dan Ubud tahun 2015 dengan subjek penelitian pengusaha kuliner yang sukses di Bali.

Masalah yang dijawab dalam penelitian ini ada tiga yaitu, kontribusi perempuan pengusaha dalam mengangkat kuliner lokal dalam mendukung perkembangan pariwisata Bali, pandangan stakeholder terhadap perempuan pengusaha kuliner dalam mendukung pariwisata Bali dan perluasan peran perempuan Bali dari dunia domestik ke dunia publik dalam konteks pariwisata Bali.

Dari penilitian yang dilakukan ternyata perempuan mampu tampil sebagai pengusaha dalam pariwisata, tak hanya pekerja dan tak hanya sebagai orang yang mengurus rumah tangga seperti kebanyakan ditulis penelitian-penelitian sebelumnya.

Di mana ditemukan perempuan pengusaha kuliner memberikan kontribusi dalam pembangunan pariwisata budaya melalui tiga hal yaitu mempopulerkan, melestarikan, dan memperkuat identitas kuliner lokal. Sebagai perempuan pengusaha kuliner, mereka menunjukkan perluasan peran dari dunia domestik ke dunia publik dalam konteks perkembangan pariwisata Bali.

Keberhasilan mereka dalam membangun dan mengelola usaha kuliner bisa dilihat sebagai gejala matrifokal, yaitu akumulasi posisi tawar dan kontrol dalam keluarga untuk mencapai kesetaraan gender.

Untuk itu ke depan Putu Sucita berharap, Pemerintah melanjutkan komitmen perempuan pengusaha dalam mengangkat kuliner lokal, dengan mendukung perkembangan gastronomi tourism sehingga keragaman kuliner yang telah dirintis para perempuan berkelanjutan.

Tujuannya agar Bali dapat dikembangkan sebagai destinasi kuliner seperti yang dilakukan UNESCO dengan menetapkan kota-kota terbaik didunia seperti Popayan (Kolombia), Chengdu (Cina), Ostersund (Korea), Jeonju (Korea Selatan) dan Zahle (Lebanon) sebagai kota gastronomi karena potensi kulinernya.

 Jadi tidak hanya pariwisata budaya yang dipromosikan, namun wisata kuliner juga kedepan harus dipromosikan yang dapat menjadi daya tarik. Di mana dari wawancara dengan sejumlah wisatawan menunjukkan, ada keinginan untuk mencicipi kuliner khas Bali, namun mereka tidak mengetahui kuliner yang mana sebaiknya dicoba. (pur/)

BAGIKAN