Pengangguran merupakan masalah krusial sekaligus ancaman terhadap daya saing sumber daya manusia (SDM) Bali khususnya di era persaingan sejagat ini. Angka pengangguran di Bali pun dari tahun ke tahun terus meningkat. Inikah bukti daya saing SDM Bali masih rendah?

BALI yang kaya potensi ekonomi terutama pariwisata dan lainnya justru tingkat penganggurannya masih tinggi. Ini jadi bukti kalau berbagai peluang kerja dan usaha belum tergarap optimal untuk kesejahteraan masyarakat Bali itu sendiri. Fenomena persaingan kerja dan usaha yang sengit telah memacu migrasi tenaga kerja (naker) dan wirausaha luar daerah dan bahkan asing ke Bali. Karenanya, tak berlebihan ungkapan Bali bak gula yang dikerubuti semut-semut. Manisnya harapan peluang kerja dan usaha di Bali menarik bagi orang luar untuk mengadu nasib di pulau yang dikenal sebagai destinasi pariwisata dunia ini. Persoalan kemudian muncul, sudahkan SDM Bali siap bersaing di daerahnya sendiri? Ini tentu saja harus dijawab secara nyata. Khususnya oleh angkatan kerja  intelektual dengan mampu bersaing merebut dan mengisi peluang kerja strategis di daerah. Tak kalah penting saat ini adalah angkatan kerja intelektual harus sudah meninggalkan pola pikir tamat kuliah harus menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dan sebagainya. Tetapi mereka harus bisa termotivasi membangun perekonomian dengan mengaplikasikan ilmu dan skill yang pernah ditimba di bangku kuliah untuk membuka usaha sendiri. Ini yang masih kurang sehingga banyak lulusan yang masih menganggur. Dari sisi mentalitas dan dukungan faktor modal, dan lainnya juga masih rendah dengan demikian masalah pengangguran makin menjadi-jadi. Demikian dipaparkan praktisi ekonomi Universitas Warmadewa (Unwar), Ida Bagus Udayana Putra.

Sebelumnya praktisi ekonomi dan pendidikan tinggi, Prof. I Nengah Dasi Astawa menyampaikan, masalah pengangguran perlu langkah keroyokan. Tak hanya harus dimulai dari perubahan maindset lulusan menjadi pribadi mandiri dan kompeten, juga berwawasan persaingan global. Itu menjadi tantangan lembaga pendidikan menyediakan layanan berbasis life skill. Sinergi lembaga pendidikan dengan industri juga harus diperkuat sehingga meningkatkan dan mengutamakan pemanfaatan naker lokal, terutama di bidang-bidang perekonomian strategis seperti pariwisata, dan lainnya. (gun)