Pemakaian Air Bawah Tanah Berdampak Buruk bagi Bali

32
wid   foto bersama Ketua Umum Kadin Bali (kanan), CEO Myland Water Philips (kiri), Dirut PDAM Badung (2 dati kiri),  CEO PT Moya Indonesi (tengah)  dan Kadis PU Provinsi Bali (dua dari kanan) 

Denpasar (Bisnis Bali) –  Kadin Bali menyatakan 90 persen industri perhotelan memanfaatkan air bawah tanah dalam penyediaan air bersih. Jika hal ini terus berlanjut, diprediksi akan memberikan dampak buruk untuk Bali, terutama Bali Selatan yang mungkin saja akan tenggelam, karena kekosongan yang terjadi di dalam tanah.
Hal ini diungkapkan Ketua Umum Kadin Bali, AA Ngurah Alit Wiraputra, pada acara seminar yang bertemakan “Konservasi Air Bersih untuk Industri Pariwisata di Bali”, Rabu (2/11) kemarin.

Dia mengatakan, saat ini di daerah Kuta sudah terjadi penurunan permukaan tanah lebih dari 50 cm. Dengan demikian, ia mengatakan salah satu tujuan diadakannya seminar ini adalah untuk menangani permasalah air bersih, dengan tidak merusak alam ataupun merugikan bagi kehidupan masyarakat banyak.

“Kami akan lebih menekankan pada pemanfaatan air permukaan dalam penyediaan air bersih ini. Saya rasa air permukaan masih banyak yang bisa dimanfaatkan, namun hal ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” katanya

Dengan itu, Kadin Bali akan membantu dalam penyediaan air bersih ini, dengan partner-partner yang ada di dalamnya  akan melakukan investasi di atas Rp 5 triliun untuk penyediaan air bersih di Badung, Denpasar dan wilayah Serbagita. Adapun wilayah ini dijadikan sasaran, karena penggunaan air paling banyak di daerah ini, serta keinginan Kadin menekan penggunaan air bawah tanah. (wid)