Perkuat Sinergi, Wujudkan Pariwisata Berkualitas Berkelanjutan  

60
SEMINAR – Seminar nasional Tata Kelola Lingkungan Kepariwisataan Terintegrasi  Berbasis Budaya  Universitas Warmadewa (Unwar) Jumat.

Denpasar (Bisnis Bali) – Memajukan kepariwisataan Bali yang berbasis budaya harus dilakukan secara terintegrasi. Untuk itu perlu sinergi yang baik semua pihak di kabupaten/kota untuk mampu mengambil manfaat optimal dalam mengembangkan salah satu sektor basis perekonomian Bali ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Demikian antara lain terungkap pada seminar nasional Tata Kelola Lingkungan Kepariwisataan Terintegrasi  Berbasis Budaya, Universitas Warmadewa (Unwar) Jumat (28/10) yang dibuka Rektor Unwar, Prof. dr. I Dewa Putu Widjana, DAP&E.Sp. Park, diikuti kalangan akademisi di daerah dan luar Bali serta dari instansi pemerintahan di Bali.

Wakil Bupati Badung,  Drs. I Ketut Suiasa, S.H., yang diundang sebagai pembicara menyampaikan membangun kepariwisataan Bali tak lepas dari filosofi Tri Hita Karana (THK). Dengan itu sinergitas kepariwisataan berbasis budaya dapat diperkuat. Badung  sebagai pusatnya pariwisata,  dari pajak hotel dan restoran harus melakukan hal strategis untuk meningkatkan kualitas  pariwisatanya. Wujudnya adalah pengembangan pariwisata berkualitas serta berkelanjutan.  Hal tersebut secara khusus di Badung dilakukan dengan mengembangkan ecotourism yakni pariwisata ramah lingkungan agar tercipta green tourism.

Selanjutnya menjaga seni budaya sebagai penopang pariwisata itu sendiri. Tak kalah strategis adalah pariwisata berbaisis masyarakat. Dalam hal ini peran aktif masyarakat dalam menjaga dan mengembangkan budaya mereka akan menunjang kemajuan pariwisata itu sendiri. Lebih lanjut dikatakan, bicara kepariwisataan Bali harus secara utuh, terintegrasi, dan terjaga sinkronisasi di daerah kabupaten – provinsi. Jika tidak akan muncul tumpang tindih. Ada beberapa hal yang jadi prioritas pengembangan pariwisata itu yakni, memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan masyarakat, pendidikan dan kesehatan, sosial, dan adat, agama, serta budaya masyarakat. Selanjutnya pariwisata berkualitas juga harus ditopang promosi yang intensif dan berkelanjutan. Itu karena persaingan yang dihadapi makin ketat. Badung sendiri membentuk Badan Promosi Daerah  untuk menangani hal tersebut. Badung kini memiliki 37 destinasi pariwisata yang harus dikelola dengan baik untuk meningkatkan pendapatan daerah. Hal penting yang dilakukan dalam meningkatkan manfaat dari pengembangan destinasi pariwisata tersebut yakni 2017 ini harus ada paket-paket tour yang siap dijual kepada penikmat pariwisata. Konsep sinergitas dan terintegrasi pariwisata Badung juga diartikan membangun pariwisata Bali dari Badung.

Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si yang akrab dipanggil Cok Ace ini menyampaikan apresiasi dan setuju atas konsep membangun pariwisata Bali dari Badung. Selanjutnya Ketua PHRI ini juga menjelaskan  tentang Tri Mandala sebagai satu model pengembangan pariwisata berbasis budaya Bali. Ia menyebutkan, peraturan daerah Bali masih menetapkan pengembangan pariwisata Bali berbasis budaya dan merujuk pada pengaturan ruang atau zonasi. Salah satu model konsep zonasi yang berbasis budaya adalah pembagian ruang atas tiga zone yang disebut Tri Mandala. Tri Mandala meliputi jeroan, jaba tengah, dan jaba sisi. Konsep ini juga merujuk pada orientasi matahari terbit dan tenggelam (kangin kauh) dan gunung laut (kaja kelod). Tri Mandala juga menempatkan kegiatan bersifat sakral di daerah utama, kegiatan bersifat profan di daerah madya, dan kegiatan keduniawian di jaba sisi. Implementasi konsep Tri Mandala pada tingkat tempat tinggal meliputi zone satu untuk sanggah, zona dua bangunan tempat tinggal, dan zona tiga pelemahan (ambal-ambal). Sementara pada tingkat pura/parahyangan meliputi jeroan pura, jaba tengah , dan jaba sisi. Untuk tingkatan lebih luas yakni Bali meliputi zone gunung yang bersifat sakral, dataran adalah zone profan, dan pesisir adalah zone komersial. Pembicara lainnya yakni, Prof. I Ketut Suda mengangkat tentang peranan lembaga adat dalam menjaga kelestarian lingkungan pariwisata. Sebutnya desa  adat memiliki peran strategis dalam pembangunan pariwisata. Karena itu keterlibatan mereka dalam menyusun program pembangunan di daerah bertujuan agar tak muncul persoalan di kemudian hari. Demikian pembicara I Ketut Sudiarta dari Fakultas Pertanian Unwar mengangkat tetang konsep “rumah desa” dalam pengembangan desa wisata yang autentik. (gun/)

BAGIKAN