Berbagai pilihan gaya hidup praktis dewasa ini kian melengkapi kehidupan masyarakat, yang mendorong masyarakat cenderung berperilaku konsumtif. Seperti halnya penjualan berbagai kebutuhan yang dilakukan lewat media internet dari pakaian, makanan hingga sarana upakara yang dipasarkan lewat online saat ini. Apakah hal ini akan memberikan peluang kepada masyarakat untuk membangun perekonomian atau tantangan dalam melestarikan nilai agama dan budaya? 

SEIRING kesibukan masyarakat setiap harinya membuat kebanyakan masyarakat cenderung berkeinginan untuk hidup praktis. Padatnya pekerjaan masyarakat terutama perempuan yang sudah berumah tangga membuat berkurangnya waktu untuk mengurus rumah tangga, termasuk pembuatan sarana upakara. Dengan demikian, masyarakat akan lebih cenderung membeli banten atau upakara dibandingkan membuatnya. Jika hal ini terus berlanjut, ke depanya bisa saja memberi dampak buruk bagi kelestarian nilai agama dan budaya. Masyarakat akan makin lupa tentang cara pembuatan banten.

Namun dari segi ekonomi, ini merupakan sebuah peluang yang sangat bagus dikembangkan. Dari sisi ekonomi, hal ini tentu dapat dimanfaatkan oleh pemikir kreatif dalam mengembangkan perekonomian. Salah satunya menciptakan sebuah situs online yang mampu membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang upakara dengan cara praktis.

Seperti yang dilakukan salah seorang pemuda yang bernama I Kadek Agus Kusprasetya (23), yang telah berhasil mengembangkan situs ciptaaannya yang diberi nama www.halopejati.com.
Situs yang fokus dalam menjual upakara seperti canang, pejati, daksina, soda, prayascita serta beakaonan ini, memberi kemudahan kepada masyarakat dalam mendapatkan sarana upakara yang sering dibutuhkan ini. Menurut Agus, saat ditemui beberapa waktu lalu, di kantornya di Jalan Gatot Subroto, hal ini merupakan sebuah peluang untuk mengembangkan perekonomian serta membantu masyarakat untuk hidup yang lebih praktis.
“Halo Pejati ini membantu menghubungkan pedagang dengan pembeli melalui dunia maya. Aplikasi ini akan sangat membantu ibu-ibu dalam menyedikan upakara langsung di rumah yang sebelumnya telah dipesan,” katanya.
Dia mengatakan, antuasiasme masyarakat juga kian tinggi menanggapi adanya situs online yang memasarkan sarana upakara ini. Hal ini dibuktikan dengan belum ada 2 bulan situs ini diluncurkan, sudah sekitar 2.000 aplikasi ini yang telah di-download masyarakat.
Dari segi konsumen, tentunya hal ini mendapat tanggapan baik.

Ni Putu Adnyani, salah seorang warga masyarakat yang memiliki begitu banyak kesibukan mengatakan hal ini akan sangat membantu pekerjaan perempuan Bali saat ini.
“Seiring perekembangan zaman dan tuntutan kehidupan, perempuan Bali harus bisa berkreasi dan bekerja di luar kewajiban sebagai ibu rumah tangga. Hal ini merupakan terobosan baru  yang bisa membantu perempuan untuk bisa fokus bekerja serta tidak melupakan kewajiban sebagai umat Hindu dalam beryadnya,” katanya
Selain itu, menurutnya, hal ini juga dapat membantu perempuan Bali yang pintar membuat upakara untuk mengembangkan perekonomian. “Akan terjadi hal yang saling menguntungkan di sini, masyarakat yang disibukkan dengan pekerjaan akan dibantu dalam mempersiapkan sarana upakara. Masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan tetap bisa menjadikan ini sebagai peluang dalam menumbuhkan perekonomian,” katanya.  (wid)

BAGIKAN