BBDF Angkat Pariwisata Buleleng  

70
ira Biorock Bedawang Nala & Lokasi BBDF di Pemuteran

Singaraja (Bisnis Bali) – Buleleng memiliki kekayaan alam bawah laut seperti terumbu karang dan biota laut lainnya yang berada di di Desa Pemuteran. Dalam hal ini untuk mendorong perkembangan dan pemberdayaan wilayah pesisir utara Buleleng, di Desa Pemuteran yang sudah terkenal sebagai titik menyelam dan kali ini akan kembali menjadi tuan rumah festival yang digelar Pemkab Buleleng yakni Buleleng Bali Dive Festival (BBDF) 2016 yang dibuka 23-26 Oktober 2016.

BBDF mengusung tema Love Our Sea dengan mengambil ikon Bedawang Nala yang artinya simbol dari kekuatan alam. BBDF 2016 bertujuan untuk memperkenalkan kepada masyarakat terkait manfaat dari konservasi terumbu karang. Buleleng Bali Dive Festival 2016 dibuka Minggu (23/10) di mana sebelum pembukaan, terlebih dahulu digelar kegiatan Surya Namaskara Yoga di Pantai Tanjung Budaya Dalem Pemuteran, Lokakarya Biorock, Lomba Melukis dan Gemar Makan Ikan.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan, Ir. Made Arnika mengatakan, persiapan BBDF 2016 hingga Jumat ini sudah mencapai 90 persen baik persiapan di lapangan maupun persiapan gelar seni. Adapun kegiatan yang dilaksanakan dalam BBDF 2016 ini memiliki perbedaan dibandingkan BBDF tahun sebelumnya di mana dalam kegiatan ini adalah dengan memberdayakan masyarakat, khusus untuk gelaran seni yang akan dilaksanakan pada malam hari sepenuhnya dari swadaya masyarakat dengan sponsor dari pihak pemerintah daerah atau pemerintah pariwisata. “Di sini kita meningkatkan partisipasi dari masyarakat, rencananya BBDF ini akan dibuka pihak Kemenpar,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Nyomam Sutrisna, M.M., mengatakan, kegiatan BBDF 2016 dengan memberdayakan masyarakat serta gerak seni yang akan ditampilkan, selain itu akan diselenggarakan di dua tempat . “Yang paling ditonjolkan adalah membangkitkan lokasi untuk penampilan kesenian yang dikhususkan di kawasan Tanjung Budaya Dalem Pemuteran, selain itu yang paling menarik pihaknya mencoba mencari solusi terbaik bagaimana keseimbangan alam dilakukan melalui suatu pementasan dan juga melalui ikon bedawang nala yakni penyu yang dikelilingi dua ekor naga yang nantinya sebagai ikon untuk bisa disampaikan kepada dunia dengan konsep Tri Hita Karana (THK)  yang dimiliki Buleleng selain pementasan seni juga aktualisasi melalui biorock,” katanya.(ira)

BAGIKAN