Pamerkan Hasil Kerajinan dan Kuliner Khas TIM Kota Denpasar Evaluasi ST Swastika Banjar Dakdakan

432
sta Sebelum evaluasi dimulai, Wali Kota Rai Mantra didampingi Camat Denpasar Utara Nyoman Lodra, Kabag Kesra Kota Denpasar IGN Bagus Mataram, Koodinator Umum Tim Panureksa ST Kota Denpasar Cokorda Wisnu Wardana, beserta TIM evaluasi juga sempat meninjau pameran kerajinan tangan dan kuliner hasil karya ST Swastika Banjar Dakdakan Kelurahan Peguyangan.

Denpasar (BisnisBali) – Kini giliran Sekeha Teruna (ST) Swastika Banjar Dakdakan Kelurahan Peguyangan, Duta Denpasar Utara dievaluasi dan dibina Tim Panureksa ST Tingkat Kota Denpasar. Evaluasi dilaksanakan pada Selasa (18/10), di Balai Banjar Dakdakan, Kelurahan Peguyangan. Dalam evaluasi, ST menyuguhkan pameran aneka kerajinan dan kuliner khas.

Evaluasi ini dihadiri langsung Wali Kota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra, sekaligus membuka evaluasi ditandai dengan penerimaan awig-awig dan perarem ST, yang diserahkan langsung Ketua ST Swastika, I Gede Bayu Tamiarta. Di mana sebelumnya, Duta Denpasar Barat, Denpasar Selatan dan Denpasar Timur, masing-masing ST Dharma Kerti Banjar Tegal Kawan, ST Dharma Laksana Banjar Kaja Desa Pakraman Panjer, dan ST Yowana Werdhi Banjar Bantan Buah Kesiman, juga sudah dievaluasi dan dibina oleh Tim Panureksa ST Tingkat Kota Denpasar.

Sebelum evaluasi dimulai, Wali Kota Rai Mantra, yang pada kesempatan ini didampingi Camat Denpasar Utara, Nyoman Lodra, Kabag Kesra Kota Denpasar, IGN Bagus Mataram, Koodinator Umum Tim Panureksa ST Kota Denpasar, Cokorda Wisnu Wardana, beserta tim evaluasi juga sempat meninjau pameran kerajinan tangan dan kuliner hasil karya ST Swastika Banjar Dakdakan, Kelurahan Peguyangan.

“Penilaian Evaluasi Pembinaan ST ini janganlah dijadikan suatu beban. Namun jadikanlah sesuatu apa yang bisa kita perbuat dalam kebudayaan yang kita miliki. Sebab ST sangatlah penting untuk masalah regenerasi dalam pelestarian dan penerusan budaya yang adi luhung (ketahanan budaya),’’ katanya.

Untuk itu, lanjutnya, ST ini harus dibina dan diingatkan terus. Dikarenakan ini merupakan masalah pelestarian dan penguatan memang perlu ada suatu kegiatan yang mengingatkan mereka untuk lebih mematangkan atau meyakinkan kepada generasi-generasi ST ini bahwa kebudayaan itu sangat penting dalam pembangunan.

Lebih lanjut Rai Mantra mengatakan, Kebudayaan itu tidak hanya unsur seni saja yang ada di dalamnya, melainkan dalam kebudayaan Bali yang kita miliki ini banyak sekali hal-hal penting di dalamnya, di mana unsur kebudayaan ini terdiri tujuh unsur yang meliputi agama, aksara, seni, organisasi sosial, pendidikan, ekonomi dan teknologi. ‘’Oleh sebab itu generasi muda di era globalisasi ini harus bisa menghadapi tantangan dalam mempertahankan kebudayaan yang didasari oleh konsep Tri Hita Karana,’’ jelasnya.

Lanjutnya, Tri Hita Karana meliputi Parahyangan yang merupakan kepercayaan terhadap Tuhan, Pawongan merupakan perwujudan antar sesama manusia dan Palemahan perwujudan alam semesta atau lingkungan/wilayah yang merupakan inti dari sebuah kebudayaan yang harus di jalani. Oleh karena itu, katanya, diperlukan strategi kegiatan kebudayaan dalam sebuah objek sebagai unsur-unsur sebuah kebudayaan yang dapat menumbuhkan taksu Bali serta jati diri ST sebagai generasi penerus serta semangat menumbuhkan rasa kompetitif, adaptif dan kreatif di dalam menjalankan kehidupan yang berbudaya untuk menciptakan generasi muda yang tangguh serta beridentitas.

Sementara Koodinator Umum Tim Panureksa ST Kota Denpasar, Cokorda Wisnu Putra Wardana mengatakan, pihaknya berasumsi bahwa ST ini merupakan pianak banjar yang tentunya banjar merupakan organisasi sosial yang bernafaskan Hindu dimana banjar merupakan bagian dari desa pakraman, yang tentunya pembinaan kepada ST ini diorientasikan kepada bagaimana peran ST dalam meningkatkan keberadaan organisasinya, menata organisasi supaya tertata baik termasuk administrasi, serta membantu banjar maupun desa dan membangun budaya kreatif yang tidak lepas dari konsep Tri Hita Karana.

Sementara itu, Ketua ST Swastika, I Gede Bayu Tamiarta menambahkan, jumlah ST Swastika sebanyak 83 orang, yang terdiri dari 49 orang laki-laki dan 34 perempuan. Dengan diadakannya kegiatan ini pihaknya sebagai generasi muda sangat berterima kasih kepada Pemerintah Kota Denpasar dimana dalam upaya mendukung generasi muda untuk selalu menjaga budaya serta menjaga identitas kami sebagai generasi penerus. *sta

BAGIKAN