RISIKO nilai kredit bermasalah pada perbankan diprediksi pada semester dua berpotensi mengalami kenaikan. Satu sisi kredit macet merupakan musuh bank. Kenapa terjadi kredit macet dan apa upaya perbankan?

Menekan risiko kenaikan kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) sangat mutlak bagi bank. Jangan sampai karena NPL tinggi bank menjadi bangkrut. Di lain sisi bank memerlukan kredit karena pendapatan bunga sebagai hasil dari pemberian kredit, merupakan kontribusi terbesar pada pendapatan bank. Tapi penyaluran kredit mengandung risiko bisnis terbesar dalam dunia perbankan. Oleh karena itu, pengelolaan kredit merupakan kegiatan yang sangat penting untuk diperhatikan setiap bank.

Keberadaan kredit bermasalah di perbankan terbagai atas tiga yaitu kredit kurang lancar, kredit diragukan dan kredit macet. Kredit macet inilah yang menjadi musuh tiap bank, karena akan mengganggu kondisi keuangan bank, termasuk mengakibatkan berhentinya kegiatan usaha bank. Berdasarkan data OJK Regional 8 Bali Nusra NPL perbankan (khususnya BPR) telah melampaui ketentuan 5 persen (5,49 persen Agustus 2016)

Terkait kondisi tersebut, Wakil Ketua Umum Bidang Perbankan dan Finansial Kadin Bali, Drs. IB Kade Perdana, M.M. mengatakan, dalam dunia perbankan dikenal 4 kelompok kredit yang meliputi kolektibilitas I kredit lancar, kolektibilitas II kredit kurang lancar, kolektibilitas III kredit diragukan dan kolektilitas IV kredit macet. Kolektibilitas IV kredit macet merupakan kumpulan kredit yang bermasalah akibat ketidakmampuan atau kegagalan debitur (peminjam)  untuk membayar kembali pinjaman yang dierima tepat pada waktunya. *dik