Bisnis Canang  Kerjaan Sambilan tapi Menguntungkan

129

‪Ibu Jro Nyoman Ernawati, tengah sibuk membuat  (metanding) canang. Wanita yang kesehariannya berjualan camilan dan barang kelontong ini, melebarkan sayap usahanya dengan berjualan canang. Melihat peluang yang cukup besar di bisnis canang, Jro Ernawati mencoba menjajakinya.

“Dari pada bengong menanti orang berbelanja, saya coba sambil membuat canang. Ternyata respons dari masyarakat sangat positif,” katanya. Hari – hari bisa saja saya bisa menjual 15 bungkus canang daun dengan harga Rp 5 ribu- Rp 6 ribu per bungkus, tergantung harga bunga. 10 bungkus canang sari dengan harga Rp 10 ribu- Rp 12 ribu, dan 10 bungkus canang ceper dengan harga Rp 15 ribu, bila harga bunga sedang stabil.

“Saya cuma bisa menjual sebanyak itu, karena keterbatasan waktu dan tenaga. Sehingga saya tidak berani menerima langganan tetap, karena takut tidak mampu memenuhi permintaan,” imbuhnya.

Besarnya peluang berjualan canang ini, karena ibu-ibu khususnya yang bekerja tidak memiliki cukup waktu untuk membuat canang sendiri sehingga permintaan canang cukup tinggi. Apalagi saat rahinan permintaan canang akan naik 2 hingga 3 kali lipat hari biasa. Begitu pula dengan harga yang akan naik cukup signifikan.

“Cuma pas harga bahan canang naik, kadang pelanggan tidak mau tahu dan menawar gila-gilaan,” katanya. Selain itu yang kerap menjadi kendala adalah banyaknya orang non-Hindu yang juga memanfaatkan peluang berjualan canang.

 Namun mereka tidak mengerti tentang kelengkapan canang, bahkan banyak rumor mengatakan mereka menggunakan ceper bekas.

“Tapi sekarang banyak masyarakat yang sudah jeli dan mengerti tentang letak bunga yang benar. Jadi tidak bisa dibohongi dan asal-asalan,” tukasnya.

Selain menjual canang Jro Ernawati juga menerima pesanan sodan yang dibanderol Rp 5 ribu- Rp 10 ribu, daksina Rp 12 -15 ribu, pejati Rp 40 – Rp 50 ribu dan prayascita Rp 35 ribu. (pur)

BAGIKAN