Blayag Beras Hitam Khas Penglatan Jadi  Kuliner Inovatif 

303
 Sajian blayag beras hitam di rumah makan sehat

Singaraja (Bisnis  Bali) –  Desa Penglatan tidak hanya terkenal dengan makanan manis yakni, dodol dan iwelnya akan tetapi terdapat kuliner inovatif dan unik yang memiliki rasa yang khas yakni blayag.

Blayag, salah satu kuliner tradisional warisan leluhur dari turun temurun yang sudah tidak asing lagi dijumpai ketika berkunjung ke Bali Utara yakni Kabupaten Buleleng. Di tengah serbuan makanan modern justru makanan tradisional Buleleng yang satu ini, kini masih tetap popular dan makin diminati. Bahkan, sajian masakan yang dipadukan dengan lontong (tipat-red) merupakan menu andalan dalam menu prasmanan dalam tiap acara acara besar yang digelar di Buleleng.

Sajian masakan tradisional blayag ini  pada umumnya adalah, menggunakan racikan bumbu Bali atau yang lebih dikenal dengan basa genep yang dipadukan dengan tepung beras atau bubur beras sebagai bumbu kental berwarna kuning dengan varian lain seperti kuah ayam tergantung racikan bumbu yang digunakan, akan tetapi salah satu blayag unik dan berbeda dari segi penyajian yang bisa dijumpai di Buleleng yakni “Blayag Beras Hitam”.

Sama seperti penyajian blayag pada umumnya dengan varian ayam suwir dan sayur serta kacang kedelai di atas bumbu kuning namun yang unik adalah menggunakan tipat dengan beras hitam yang dicampur dengan beras putih di mana kandungan gizi dari beras hitam sudah tidak diragukan lagi mengandung antioksidan, serat dan  vitamin E serta lebih sedikit mengandung gula namun kandungan gizi adalah yang tertinggi di antara beras putih dan beras merah serta mampu mencegah berbagai macam penyakit seperti kanker , diabetes, kanker , anemia, anti aging dan banyak lagi.

Penggagas kuliner blayag beras hitam yakni, Made Supala warga Desa Pengelatan Buleleng sekaligus owner Rumah Makan Sehat (RMS) ketika diwawancarai Bisnis Bali Selasa (11/10) di Jalan Gajah Mada Buleleng  mengatakan, peminat blayag beras hitam ini dari berbagai kalangan bahkan hingga di luar Kabupaten  Buleleng seperti Bangli dan Denpasar.  Berawal dari konsumsi hanya untuk keluarga dirinya mencoba membudidayakan tanaman padi beras hitam dilahan pribadinya dan hingga kini belum begitu dipasarkan karena tidak banyak yang membudidayakan tanaman beras hitam, sekalipun dipasarkan harganya pun cukup tinggi Rp 35.000 per kilogramnya sehingga saat ini pihaknya hanya menggunakan beras hitam untuk menu masakan di rumah makannya dan untuk di konsumsi keluarga. Sajian kuliner blayag beras hitam ini dibanderol Rp 7.000 per porsi. (ira)