Selisih Harga Disebabkan Perbedaan Tipe Water Meter PDAM Tirta Mangutama Klarifikasi Dugaan Penggelembungan Harga  

74
  sar KLARIFIKASI - Dirut PDAM Badung Made Subarga Yasa (dua dari kanan) didampingi Dirum IB Wardana serta Ketua Dewan Pengawas Wayan Suyasa dan Sekretaris Wayan Tirta saat memberikan klarifikasi soal dugaan penggelembungan harga water meter, Selasa kemarin.

Mangupura (Bisnis Bali) – Untuk menghindari adanya salah persepsi, PDAM Tirta Mangutama Badung memberikan klarifikasi terhadap dugaan penggelembungan harga water meter. Selisih harga ini muncul karena perbedaan tipe water meter yang digunakan Badung dan daerah lainnya di Bali.

Hal itu dikemukakan Direktur Utama PDAM Tirta Mangutama Badung Made Subarga Yasa, S.E., M.M. didampingi Direktur Umum Ida Bagus Wardana kepada sejumlah media, Selasa (11/10) kemarin. Hadir juga Ketua Dewan Pengawas PDAM Wayan Suyasa, S.Sos. bersama Sekretarisnya Wayan Tirta.

Sebelum 2016, Badung dan beberapa PDAM di Bali termasuk Denpasar menggunakan water meter tipe R50. Harga satuan saat itu, katanya, nyaris sama. Di Badung hanya Rp254.000, sementara harga satuan di daerah lainnya mencapai Rp 254.800.

Namun sejak tahun 2016, ujar Subarga Yasa, PDAM Tirta Mangutama Badung tidak lagi menggunakan water meter tipe R50. “Sejak 2016, Badung sudah menggunakan water meter dengan tipe R100 dengan harga satuan Rp 297.800,” ujarnya.

Apa kelebihan tipe R100 dibandingkan R50? Menurut Subarga Yasa, kelebihannya ada di kualifikasi. Pertama, starting flow atau tingkat akurasinya lebih baik dibanding dengan R50. Water meter tipe R100 ini bisa mencatat lebih kecil dari 7 liter per jam, sedangkan R50 mencatat 12 liter per jam. “Tipe ini dipastikan lebih akurat,” katanya.

Kedua, water meter tipe R100 dapat dilengkapi dengan automatic meter reading (AMR), sementara tipe R50 tidak. Dengan alat ini, pencatatan bisa dilakukan dari radius tertentu. Petugas tak mesti masuk rumah pelanggan. “Inilah yang menyebabkan ada selisih harga,” katanya.

Selain itu, Subarga Yasa menyatakan, proses lelang sampai pemenangnya ditentukan di Unit Layanan Pengadaan (ULP) Pemkab Badung, sementara PDAM sama sekali tidak terlibat. PDAM hanya menyiapkan dokumen serta proses, lelang serta pengadaan termasuk harga satuan ada di ULP.
Terkait klarifikasi ini, Ketua Dewan Pengawas Wayan Suyasa menyatakan bisa memahami selisih harga yang disebabkan adanya perbedaan spek dari barang tersebut.

Dia sepakat, PDAM Badung tetap meng-upgrade teknologi berupa water meter otomatis yang langsung online. Namun harga produk ini relatif agak mahal. Walau teknologi relatif mahal, katanya, pengadaan bisa direncanakan secara bertahap.

Dia merinci, water meter pelanggan berusia maksimal 5 tahun. Dalam 5 tahun itu, water meter pelanggan yang berjumlah sekitar 70.000 bisa dianggarkan secara bertahap.

Hal senada dikemukakan Sekretaris Dewan Pengawas Wayan Tirta. Sebagai Dewan Pengawas, dia menyatakan akan tetap mengawasi baik terhadap perencanaan maupun  kebijakan direksi. Selain itu, Dewan Pengawas juga proaktif terhadap pengendalian dan pembinaan.

Dia menyambut baik karena direksi melaksanakan perubahan yang lebih baik. Direksi sudah melaksanakan aksi-aksi nyata yang mengarah kepada teknologi yang lebih baik yang muaranya peningkatan pelayanan kepada pelanggan. “Tanpa teknologi, tentu akan ketinggalan,” katanya sembari menambahkan, saat pihaknya tengah membentuk komite audit. (sar/)