Desain Penentu Penjualan Produk masih ’’Dianaktirikan”  

53

Denpasar (Bisnis Bali) – Desain produk menjadi penentu laku tidaknya produk di pasaran. Tanpa desain, produk tidak akan mampu memikat selera konsumen. Desain merupakan hal utama, namun kenyataannya di Bali belum banyak dilakukan pengembangan desain, baik yang dilakukan pemerintah dan stakeholder lainnya.

 ‘’Desain masih dianaktirikan. Bahkan di Bali banyak pebisnis aneka produk unggulan yang orientasi pasarnya sampai ke luar negeri, namun belum memiliki tenaga desainer khusus,’’ ujar pengamat kerajinan Bali sekaligus Ketua Lembaga Pengembangan Desain Kerajinan (LPDK) Bali, I Made Raka Metra, Senin (10/10) di Denpasar.

Lanjutnya, hal ini dikarenakan pada umumnya pelaku bisnis barang yang diminati masyarakat umum hanya menerima pesanan saja, sehingga akan berdampak pada harga jual produk lebih murah. ‘’Berbeda dengan produk yang memiliki desain tersendiri, selain banyak peminat juga harga dapat lebih mahal,’’ katanya. Untuk itu, desain semestinya didorong semaksimal mungkin, agar produk unggulan Bali memiliki inovasi tinggi.

Menurutnya, jika desain dinomorduakan, pihaknya yakin perkembangan produk unggulan Bali akan terhambat. Misalnya, kondisi sekarang ini terjadi pelesuan pemasaran produk unggulan Bali, baik sasaran pasar lokal, domestik maupun ekspor. Terbukti, terjadinya penurunan realisasi perdagangan.

Selain itu, kenyataannya di lapangan sudah terbukti banyak perajin di Bali yang beralih profesi dari dampak penurunan permintaan aneka kerajinan Bali, sehingga banyak perajin yang menganggur, dan terpaksa pekerjaan yang telah ditekuni belasan tahun ditinggalkan, dan beralih ke pekerjaan yang lebih menjanjikan. Di antaranya, menjadi tukang bangunan, petani, peternak, karyawan dan berusaha dagang serta banyak yang lainnya.

‘’Kami sangat berharap agar perkembangan desain ini terus dilakukan secara maksimal. Pemerintah semestinya menganggarkan lebih besar untuk peningkatan desain, dengan jalan memberikan pendidikan dan pelatihan (diklat), seminar dan sejenisnya,’’ jelasnya. Bila perlu, katanya, pemerintah membuat sekolah desain, sehingga terlahir seorang desainer yang mumpuni.

Pemerhati kerajinan Bali, I Dewa Ngurah Dharendra menyebutkan, selama ini desain masih dianggap rendah. ‘’Padahal desain merupakan unsur paling pokok dalam menciptakan produk yang diminati konsumen,’’ katanya.

Semua produk dapat dipastikan memiliki desain, hanya saja desainya menarik atau sebaliknya. ‘’Kami sangat berharap semua yang terkait dengan produk peduli akan pengembangan desain,’’ imbuhnya. Terutama pemerintah selama ini masih sangat minim perhatiannya terhadap desain.

Sebelumnya, lanjutnya, pernah ada organisasi yang memberikan dorongan desain, tetapi bekerjasama dengan NGO asing, yakni pemerintah hanya sebagai fasilitator saja.

‘’Semestinya pemerintah langsung ikut menyediakan anggaran untuk lebih memaksimalkan pengembangan desain di Bali,’’ ungkapnya. Karena Bali memiliki budaya dan seni tinggi, dan pihaknya yakin masyarakat yang berkaitan dengan kerajinan memiliki ide kreatif tinggi pula.

Pihaknya menyebutkan sekarang ini telah ada gedung milik Kementrian Perindustrian di Bali bernama  Bali Creatif Industy Centre (BCIC). ‘’Tempat ini semetinya oleh pemerintah Bali dimanfaatkan untuk memberikan dorongan lebih maksimal, termasuk pengembangan desain,’’ tandasnya. (sta)

BAGIKAN