Beda Segmen Pasar, Klinik Kecantikan bukan Pesaing Salon Kecantikan  

105
 aya Meski bisnis salon kecantikan tanpa dokter, tetapi dalam hal jumlah pelanggan tak kalah ramai dengan klinik kecantikan  

Denpasar (Bisnis Bali) –  Keberadaan klinik kecantikan yang kian menjamur di Denpasar belakangan ini, menawarkan model perawatan beragam. Mulai perawatan kulit wajah, perawatan tubuh hingga sekadar konsultasi permasalahan kulit dan wajah dengan dokter.

Namun demikian tidak serta merta menjadi pesaing bisnis salon kecantikan. Pasalnya, segmen pasarnya berbeda, yakni klinik kecantikan menyasar konsumen kalangan menengah ke atas.

Sementara salon kecantikan menyasar konsumen kalangan menengah ke bawah.  “Dari segi tarif cukup berbeda. Misalnya untuk biaya facial saja di tempat kami hanya mencapai Rp 75.000 per orang. Sementara di klinik kecantikan bisa mencapai ratusan ribu rupiah per orang untuk sekali terapi,’’ ujar Widyarini, salah seorang pengelola salon kecantikan di Denpasar, Senin (10/10).

Maka dari itu, menjamurnya klinik kecantikan di Denpasar belakangan ini, tidak menjadi pesaing yang berarti di tempatnya. Terbukti, konsumennya rata-rata mencapai puluhan orang per hari. ‘’Meski usaha kami tanpa dokter, tetapi dalam hal jumlah pelanggan tak kalah ramai dengan klinik kecantikan,’’ ungkapnya.

Kendati tanpa dokter, namun semua obat dan bahan yang diracik terbuat dari bahan-bahan natural, seperti parutan wortel, apel atau jeruk untuk fasilitas masker atau facial. ‘’Dengan mengetengahkan bahan-bahan alami, kami yakin tidak memberikan efek samping,’’ jelasnya.

Pada prinsipnya pihaknya mengutamakan pelayanan dengan memadukan bahan-bahan tradisional dari buah dan rempah. ‘’Pelanggan kami paling banyak minta difacial atau pembersihan muka. Fasilitas ini paling digemari, karena tarifnya cukup terjangkau,’’ imbuhnya.

Selain salon pihaknya juga menyediakan fasilitas spa. Kata Widya, spa sebagai bentuk inovasi produk salon ini cukup memberikan nuansa beda bagi konsumen ketika mereka masuk salon. Mereka tak hanya bisa merawat bagian luar tubuh saja, namun untuk perawatan yang lebih intens, dengan pelayanan terapi maupun refleksiologi akan makin menambah keyakinan mereka menerima pelayanan salon dengan tarif yang relatif terjangkau.

‘’Pelayanan spa di salon merupakan bentuk dari inovasi pelayanan dalam menghadapi persaingan yang kompetitif. Kami yakin, spa sebagai bentuk pelayanan tambahan di salon akan makin diminati konsumen. Sebab, selain memperoleh pelayanan komplit di satu tempat, masalah perawatan diri juga kesehatan sekaligus dapat teratasi relatif lebih cepat,’’ tandasnya.

Sementara itu, menurut Vice Branch Manager Larissa Aesthetic Center, Naniek A. Winarni, banyak alasan yang membuat masyarakat memilih perawatan di klinik, selain di salon atau spa tentunya. Pasalnya, klinik kecantikan ini dilengkapi fasilitas dan tenaga medis.

‘’Bedanya klinik kecantikan dengan salon kecantikan, selain memanjakan pelanggan dengan perawatan kecantikan. Disini juga kami memberikan konsultasi gratis dengan dokter plus obat,” ujarnya.

Ia menyebut klinik kecantikan diibaratkan layaknya rumah sakit, yakni, ada pasien yang minta diobati penyakitnya seperti jerawat, mengurangi kerutan atau feeling, facial, messagge, flek wajah hingga peremajaan kulit. ‘’Pada klinik kecantikan justru resep adalah faktor utama penunjang perawatan, yakni usai mendaftar, pasien atau pelanggan kami tuntun untuk berkonsultasi dengan dokter kecantikan,’’ jelasnya.

Pada tahap ini mereka bebas berkeluh kesah. Dokter pun secara lugas bakal menuliskan resep hingga bentuk perawatan yang harus dilalui. Kelebihan lainnya, beberapa jenis produknya pun diproduksi secara khusus yang terjamin aman dan sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Dengan tarif mulai Rp 70.000 hingga Rp 300.000 per sekali terapi, konsumen ditempatnya rata-rata mencapai 50 hingga 60 orang per hari. ‘’Jika weekend , konsumen kami bisa mencapai 80 orang per hari,” tandasnya. (aya)

 

BAGIKAN