Iklim Pengaruhi Produksi Cengkeh di Buleleng

345
ira SIAP KIRIM - Cengkeh hasil panen petani yang sudah dijemur dan siap dikirim ke pabrikan 

Singaraja (Bisnis Bali) – Cengkeh yang merupakan tanaman asli Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Sebagai bahan utama rokok serta sejumlah obat-obatan, cengkeh pun memiliki pangsa pasar tersendiri di pasaran. Khusus di Kabupaten Buleleng, kapasitas cengkeh menguasai hampir 40 persen. Akan tetapi perkembangan cengkeh dari tahun ke tahun ditengarai produksinya makin menurun dikarenakan iklim yang memicu pada penurunan hasil panen cengkeh itu.

Penasihat dari Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI)  se-Bali Drs. Made Suyasa, M.Si.  ketika diwawancarai Bisnis Bali, Selasa (4/10) kemarin mengatakan, perkembangan hasil produksi serta harga cengkeh saat ini khususnya di Buleleng tergantung pada mekanisme. Ia mengatakan, sebelumnya harga cengkeh pernah mengalami penurunan drastis yang sangat merugikan petani akibat ketidakmampuan serta kurangnya pemahaman petani terhadap pola tanam cengkeh. Akibat keterpurukan petani karena harga cengkeh yang buruk dibentuklah ACPI. Anggotanya terdiri atas petani cengkeh yang memiliki lahan cengkeh untuk memberikan pemahaman agar bisa berjuang untuk regulasi harga yang nantinya mampu memiliki peluang besar di Indonesia.

Dikatakan, potensi cengkeh saat ini cukup besar. Salah satu contoh untuk 1 hektar lahan cengkeh mampu menghasilkan Rp 15 juta hingga Rp 24 juta per are. Akan tetapi seringkali petani terkendalan iklim yang tidak menentu sehingga cengkeh tidak bisa menghasilkan buah dengan baik. “Regulasi itulah yang dipengaruhi iklim tertentu. Ketika iklim tidak baik, cengkeh tidak berproduksi dengan baik,” jelasnya.

Untuk mengatasi kekecewaan petani, pemerintah diharapkan memberikan keringanan terhadap petani dengan memberikan kredit pinjaman murah. Saat harga cengkeh turun, petani agar  tidak menjual cengkeh dengan harga murah. Itu salah satu solusi sebagai bentuk penanggulangan kepada petani cengkeh. “Terkadang ketika petani mengalami panen besar, pabrikan tidak mau membeli cengkeh dalam jumlah besar. Ini menjadi beban di kalangan petani. Dengan bantuan ini, setidaknya petani bisa memberlakukan sistem stok saat harga cengkeh turun. Makin lama distok, cengkeh akan makin baik,” tambahnya.

Ia menambahkan, selain karena iklim yang tidak menentu yang mengakibatkan harga cengkeh mengalami penurunan juga terjadi kendala pada penjualan cengkeh dari petani kepada tengkulak. “Seringkali terjadi permainan di tengkulak karena sulitnya petani masuk langsung ke pabrikan. Makanya, kami harapkan ke depan ada regulasi antarpemerintah, pabrikan serta petani,” ujarnya.

Selain itu petani yang makin menjerit melihat kondisi harga cengkeh yang tidak seimbang karena banyaknya pabrikan yang gulung tikar akibat sempat beredarnya isu kenaikan harga rokok dengan cukai tinggi. Di Buleleng daerah penghasil cengkeh terbesar berada di kawasan Kecamatan Kubutambahan di Desa Tajun, Kecamatan Banjar, Kecamatan Sawan. (ira)

BAGIKAN